Berkendaraan Umum di Jakarta

Satu hal yang perlu digarisbawahi, saya menulis cerita ini saat berada di dalam Metromini 640 dan sembari menunggu antrean dokter pagi ini.

Hal kedua, yang saya bahas di sini adalah segala transportasi umum massal, sehingga taksi dan bajaj tidak termasuk di dalamnya.

Nyaman dan aman nggak sih kendaraan umum di Jakarta?
Jawabannya tentu beragam sesuai dengan ekspektasi masing-masing. Tapi kalau saya ditanya, dari skala 1 sampai 10, rata-rata semua transportasi umum di Jakarta, saya beri nilai 7,5 dengan perbandingan seperti Singapura dan Hongkong di angka 10. Berarti cukup bagus bukan?

Di Jakarta ini, segala penjuru provinsi bisa dicapai dengan transportasi umum. Ada  Transjakarta, Kopaja, KRL, Metromini, Kopaja AC, angkot, bus besar AC dan non-AC, hingga bajaj modifikasi untuk 6 orang lebih di Benhil.

Tapi tentu ada saja alasan masih banyak orang tidak mau naik kendaraan umum. Dari tidak ber-AC sehingga membuat lepek, banyak copet, penuhnya tidak manusiawi, jadwal tidak jelas, hingga ugal-ugalan.

Menurut saya? Kalau ada orang memberikan lima alasan itu, semuanya tidak valid. Orang yang memberikan lima alasan tadi sejatinya hanya malas berjalan kaki menuju lokasi menunggu kendaraan umum. Ya, satu frasa “malas berjalan kaki”.

Urusan tidak ber-AC, sekarang banyak juga transportasi umum ber-AC, seperti KRL dan Transjakarta, bahkan Kopaja. Kalaupun dapat yang tidak ber-AC, toh Anda bisa membawa baju ganti untuk dipakai di tempat tujuan. Tentu ganti baju ini karena alasan modis kan, sehingga saya yakin tempat tujuan itu pasti memilili toilet untuk berganti baju.

Alasan banyak copet; kalau kata Bang Napi, “Kejahatan bisa terjadi bukan hanya karena niat, tapi juga adanya kesempatan. Waspadalah, waspadalah.” Maka janganlah meniru saya yang saat ini bermain HP di dalam kopaja non-AC kalau Anda belum hafal trik para pencopet. Saya sendiri pernah kehilangan dompet dan HP di dalam Kopaja 19. Mengulas kejadian kehilangan itu, ternyata memang saya yang teledor, bukan sekedar banyak copet. Tentunya, keledai saja tidak jatuh di lubang yang sama dua kali. Ketika mengalami pencopetan, Anda seharusnya dan memang harus, tidak mengalaminya lagi. Simpan juga semua barang dengan aman dan dalam pengawasan.

Mengenai alasan penuhnya tidak manusiawi, dua pertanyaan retoris ingin saya ajukan. Pertama, lebih tidak manusiawi mana Anda memacetkan Jakarta dengan membawa kendaraan pribadi cuma diisi satu orang, dibanding dengan penuhnya kendaraan umum? Kedua, apakah Anda pernah ke luar negeri kemudian menggunakan kendaraan umum di jam berangkat/pulang kerja?

Kemudian soal masalah jadwal tidak jelas; ya benar, inilah kelemahan utama sistem transportasi umum di Jakarta. Saya yang selalu berusaha melakukan manajemen waktu dengan ketat, sering frustasi juga dengan ketidakjelasan jadwal ini. Satu hal yang pasti, di tengah ketidakjelasan ini, saya bisa mendapatkan kendaraan umum apapun, kapanpun, tidak perlu menunggu tiap 15 menit atau 30 menit. Plus, ketidakjelasan jadwal ini saya maknai sebagai bagian kecil dari ketidakjelasan yang lebih besar di dunia luas ini. Saya harus bisa mengatur diri saya untuk tetap tepat waktu di semua agenda, meski ada ketidakjelasan jadwal transportasi umum.

Terakhir soal ugal-ugalan yang terjadi karena sistem setoran; menurut saya, supir-supir bus transjakarta saja yang digaji dan tidak mengenal sistem setoran, banyak juga yang ugal-ugalan. Mudah saja kalau Anda ingin menghentikan keugal-ugalan ini: berani memperingatkan supir. Sepanjang pengalaman saya, begitu ditegur, mereka akan tersadar. Khusus mengenai Kopaja atau Metromini yang ugal-ugalan, saran saya adalah jangan naik dua bus yang beriringan datangnya. Lebih baik Anda menunggu sebentar karena dua bus yang datang beriringan tadi, biasanya akan saling balapan.

Alasan Lain Berkendaraan Umum
Tambahan dari saya mengapa naik transportasi umum menyenangkan adalah karena mereka melewati rute tercepat dan sedikit mungkin macet serta murah. Akibat sistem setoran dan soal penghematan bahan bakar, semua transportasi umum akan berupaya keras mencari rute terpendek dan bebas macet.  Dibanding Anda naik kendaraan pribadi yang pasti kena macet? Pernah membandingkan naik KRL vs mobil pribadi dari Pondok Kopi ke area Sudirman?

Soal murahnya kendaraan umum, ya tentu saja murah. Misalnya dari Pasar Minggu ke Blok M, menggunakan taksi akan habis sekitar 60 ribu rupiah jika tidak macet. Menggunakan Metromini 75? Cukup 4 ribu rupiah.

Selain itu, dengan naik kendaraan umum, kita “dipaksa” berjalan kaki sejauh 300-500 meter guna mencapai tempat pemberhentian, sepuluh kali lipat dibanding apabila menggunakan kendaraan pribadi. Bagi saya yang sekarang banyak duduk di depan komputer, jalan kaki menuju transportasi umum adalah kesempatan emas menggerakkan kaki.

Belum termasuk kalau Anda senang mengamati interaksi masyarakat. Dari karyawan necis, pengamen, pelajar, orang yang membawa sejibun barang-barang, hingga sekeluarga libur bersama dengan kendaraan umum; bisa kita amati.

Epilog
Jadi alasan apa lagi yang membuat Anda tidak mau naik kendaraan umum? Selain memang Anda malas berjalan kaki.

One thought on “Berkendaraan Umum di Jakarta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *