Menapaki Karir vs Keluar dari Zona Nyaman

Kata orang, kita sebagai manusia (yang bekerja di sebuah institusi) dapat menjadi sukses apabila setia dalam pekerjaannya, tekun menapaki karir. Itulah mengapa sangat tidak disarankan untuk berpindah-pindah pekerjaan; lebih baik menapaki karir di sebuah insitusi, kalau bisa dengan cepat menapakinya. Dengan setia di lingkungan tersebut, selain karir dan nama baik didapat, pengalaman pun dijamin terus bertambah –apabila memang aktif mengembangkan diri.

Tapi kata orang juga, seseorang harus bisa keluar dari zona nyamannya, apabila ingin sukses. Dengan terus berada di lingkungan institusi yang sama, bisa dikatakan orang tersebut selalu akan berada di dalam zona nyaman. Sehingga menurut mahzab “keluar dari zona nyaman”, kita disarankan untuk bergerak, berpindah, tidak diam di satu tempat secara terus menerus; yang dapat menyebabkan ketumpulan pada diri kita.

Menimbang-nimbang

Mengapa saya menulis hal ini? Karena saya sedang merasa galau saat ini. Seperti pada cerita di atas, menapaki karir dengan cepat, telah menjadi hal yang selama ini saya jalani. Dengan menapaki karir di suatu institusi yang sama, saya setidaknya mendapatkan: pengalaman luar biasa, nama baik, kestabilan ekonomi, networking yang luas, dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, saya beberapa kali –termasuk yang terakhir, seminggu yang lalu– mendapatkan tawaran untuk bekerja di tempat lain. Tawaran ini sangat tempting karena saya akan dituntut untuk selalu agile, kreatif, mengembangkan lebih banyak network. Saya sendiri mendapatkan tawaran tersebut juga karena karir yang saya jalani selama ini, membuat saya sedikit dilirik orang-orang dari luar sana.

Dalam artikel mengenai mengembangkan bisnis, saat itu saya mencoba sedikit keluar dari zona nyaman, dengan melakukan suatu hal yang berbeda. Sedikit keluar karena saya tidak pernah keluar dari pekerjaan, saya menjalani keduanya dengan pekerjaan sebagai pegawai menjadi tumpuan utama. Tapi kali ini, kalau saya berpindah pekerjaan, maka hal itu tidak hanya sedikit keluar, tetapi 100% keluar dari zona nyaman.

Tahun lalu pun saya pernah ditawari juga untuk berpindah. Bisa dikatakan pada saat itu, 70% hati saya mengatakan untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil tawaran itu. Hanya saja karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan tidak mengambilnya. Ternyata, insitusi yang memberikan saya tawaran, bangkrut dua bulan lalu. Inilah sumber lain kegamangan saya. Mungkin apabila saat itu saya masuk, saya bisa membantu mencegah kebangkrutan. Tapi juga mungkin, struktur insitusi itu sudah bobrok dan siapapun yang masuk, tidak akan bisa menyelamatkannya dari kebangkrutan.

Epilog

Jadi apakah saya akan lebih berhasil di luar zona nyaman, daripada jika saya tetap setia di karir yang sekarang? Apakah lebih baik saya tetap di sini dan bergerak menuju ke puncak? Atau bisakah saya keluar sejenak, kembali lagi ke jalur zona nyaman di kemudian hari, dan hal itu membuahkan hasil lebih?

Mungkin ada yang dapat memberi saya saran?

One thought on “Menapaki Karir vs Keluar dari Zona Nyaman”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *