Plonga-Plongo Turis Mengunjungi Obyek Wisata di Indonesia

Tiga minggu lalu, sebelum saya memulai Java Trip bersama para wartawan asing, saya berjanji akan menuliskan pengalaman saya dalam blog ini. Sayangnya, pengalaman Java Trip saya ternyata luar biasa tidak mengenakkan. Sehingga daripada saya menuliskan hal buruk yang terjadi -sudah saya sampaikan ke Kementerian Pariwisata, lebih baik saya menuliskan hal-hal apa saja yang menjadi rekomendasi perbaikan pariwisata Indonesia -yang juga sudah saya sampaikan ke tiap pemangku kepentingan wisata.

Transportasi & Kualitas Tour Travel

Banyak hal yang harus diperbaiki dari pariwisata Indonesia, antara lain sepanjang pengalaman saya sembilan hari berkeliling:

1. Akses Transportasi; banyak pilihan tersedia, tetapi bukan jalur udara. Tentu ini menjadi hambatan tersendiri bagi turis asing, mereka harus berlama-lama transit di Jakarta, bahkan Singapura atau KL. Saya membaca berita bahwa hal ini sudah menjadi perhatian Pemerintah dan sedang dicari jalan keluarnya. Mari berharap jalan keluarnya cepat ditemukan.

2. Kualitas tour travel; yang masih sangat kurang. Dari pengalaman mengenai daerah-daerah wisata, kualitas menyampaikan cerita, hingga pengaturan jadwal acara, semua harus diperbaiki. Menjadwalkan kunjungan ke beberapa museum di Jakarta pada Hari Senin, tentu sebuah kekonyolan bukan? Apakah tour travel ini tidak tahu kalau semua museum di Jakarta tutup pada Hari Senin.

Mengetahui 70% peserta tur hanya bisa berbahasa Mandarin tapi tidak menyediakan tour guide yang bisa berbahasa Mandarin? Beralasan sudah tersedia tour guide berbahasa Indonesia dan penerjemah Mandarin. Suatu kekonyolan lain, terlebih penerjemahnya adalah penerjemah bahasa bisnis, bukan pariwisata. Belum lagi ternyata salah satu penerjemah bahasa lain yang ikut serta, bahkan tidak tahu apa arti Bendera Merah Putih atau siapa itu Brahma-Wisnu-Siwa.

Mengunjungi Yogyakarta tapi tidak menjadwalkan kunjungan ke Malioboro dan merasakan Gudheg? Menunjungi Jakarta tetapi tidak melongok Monas? Merupakan hal absurd lain yang saya alami.

Kebersihan

3. Kualitas dan kebersihan lokasi wisata; harus melakulan banyak perbaikan. Menyambung sedikit mengenai tour guide, tempat wisata di Indonesia perlu memasang signage cerita mengenai lokasi tersebut, dalam beragam bahasa. Kenapa? Supaya saat berkelana sendirian atau mendapatkan tour guide yang kurang bisa membantu, turis tidak plonga-plongo menerka apa sebenarnya keunikan atau cikal bakal lokasi wisata ini.

Mengenai kebersihan, sampah di mana-mana, toilet tidak bersih. Belum lagi mengenai bau pesing di setiap pojok. Bahkan banyak toilet berbayar mahal -dan ini dikeluhkan para turis, tetap juga tidak bersih.

Terlalu banyak kendaraan bermotor juga berpengaruh terhadap kualitas lokasi wisata. Seperti Bromo: rombongan saya sangat kesal saat ingin menikmati ketenangan dan kesegaran gunung di jam 3 pagi, tetapi justru kebisingan dan asap kanlpot yang kami dapatkan. Pun begitu dengan Kompleks Keraton Yogyakarta: ingin ke Tamansari saja, harus berdoa terlebih dahulu sebelum menyeberang jalan.

Belum lagi soal penguasa lokasi wisata. Di satu lokasi yang sama, perusahaan pengelola, BUMD, BUMN, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat memiliki kekuasaan dan ego yang berbeda. Apa yang diizinkan satu institusi, belum tentu diizinkan insitusi lain, padahal dalam wilayah yang sama. Aturan-aturan tumpang tindih ini menyulitkan dan membingungkan kami yang ingin lebih dalam mengeksplorasi lokasi wisata.

Kalah dari Tetangga

Itulah pengalaman saya, ironisnya bahkan untuk tur wisata yang sengaja dibuat pemerintah untuk mempromosikan Indonesia. Padahal pemerintah saat ini sedang menggencarkan promosi pariwisata. Masyarakat Indonesia juga sedang dalam euforia merasa menjadi kekuatan ekonomi, sehingga berharap banyak orang asing yang datang berkunjung dan terkagum. Tapi kalau setidaknya ketiga hal di atas tidak diperbaiki, tentu Indonesia tidak dapat meretensi para turis. Indonesia tiap tahun harus berjuang keras mencari pasar baru karena tiap turis baru yang datang, tidak puas saat berkunjung.

Saya sempat melihat foto profil akun BBM teman saya: Thailand mencatat 30 juta lebih turis, Malaysia 20 juta lebih, Singapura belasan juta, sedangkan Indonesia masih kurang dari 10 juta. Maka jangan heran jika orang masih bertanya: Indonesia itu di mana?

Mari bersama-sama memperbaiki diri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *