Membahagiakan Orang Tua

Salah seorang teman saya yang baru saja menikah mendadak mengirimkan pesan WA ke saya dan sedikit berceramah agar saya segera menikah untuk membahagiakan orang tua. Saya pun melemparkan jawaban padanya, “Banyak cara membuat orang tua kita bahagia, menikah hanya salah satunya.”

Tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang obrolan WA kami ataupun tentang pernikahan. Saya lebih ingin menulis hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat orang tua bahagia. Secara spesifik, bagaimana kelas menengah pekerja perantau seperti saya ini bisa atau harus membahagiakan mereka.

Menghindari Orang Tua & Tanggapan Mereka

Berapa kali sih kita sering mengucapkan ini ke orang tua:
“Ma, kayaknya aku pulang kampung ke rumah sekalian pas Lebaran aja.”
“Ayah, aku telpon nanti sore ya habis pulang kerja.”
“Buk, bulan ini aku belum jadi beliin tas itu ya, baru banyak pengeluaran nih.”
“Pak, kita WA-an dulu ya, udah mau masuk meeting nih.”

Dan seberapa sering kita mendengar jawaban orang tua terhadap kalimat tadi:
“Iya ga papa, mama tahu kamu banyak kerjaan. Diselesaikan semua dulu aja, jaga kesehatan ya.”
“Iya nak, ayah nyantai kok. Kamu telepon kalau sudah sempat saja.”
“Halah, ga usah repot-repot belikan ibu tas. Uangmu buat kamu beli keperluanmu dulu. Kasih tahu ibu juga kalau uangmu kurang, ibu masih ada simpenan nih.”
“Selamat meeting ya nak, semoga sukses.”

Sebenarnya yang Terjadi

Dalam percapakan seperti di atas, apakah kita kemudian pernah berpikir bahwa orang tua kita yang sedang santai itu tadi rindu pada kita? Saat mereka sudah tidak bekerja dan punya banyak teman untuk diajak bercengkerama, mereka kemudian ingin berbicara dengan kita, mengusir rasa sepi mereka?

Apakah kita pernah selintas saja terpikir kalau ibu kita selama setidaknya 21 tahun, menahan diri tidak membeli tas yang dia inginkan karena semua uangnya digunakan untuk susu dan uang sekolah kita?

Ataupun sempatkah kita memikirkan kabar atau kondisi orang tua di tengah kesibukan kita, sekedar selama satu jam setiap harinya? Sedangkan orang tua setiap saat selalu memikirkan kita.

Apakah kita yang sekarang ini sudah memiliki pekerjaan atau pendapatan memadai, lebih memilih menabung untuk segera menghajikan orang tua, dibanding untuk memiliki mobil pertama?

Merelakan Semuanya untuk Orang Tua

Dalam hidup saya, setidaknya kakak saya menjadi panutan saya dalam membahagiakan orang tua. Di tengah karirnya yang menanjak di Jakarta, ia memutuskan pulang ke kampung halaman tepat setelah S2 yang ia tempuh selesai. Saat saya bertanya kenapa buru-buru pulang padahal dengan S2 di tangan, karirnya bisa makin naik, ia menjawab bahwa ia ingin menemani ibu saya yang sendirian di rumah. “Urusan kerjaan sama gaji, nanti juga dapet, ga usah dipikirin,” jawab dia. Ia pun begitu saja meninggalkan semuanya dan pergi kembali ke kampung halaman.

Sedikit menyambung obrolan WA saya dengan teman tadi, parameter membahagiakan orang tua menurut  dia adalah: punya pekerjaan bagus, rumah sendiri, dan pendamping hidup. Kakak saya memiliki semua itu. Saat saya (baru dua dari tiga) dan kakak saya sudah mencapai semua parameter tadi, ibu saya senang dan bangga luar biasa. Tapi ternyata menurut kakak saya, semua itu tidak cukup. Kakak saya berkata bahwa sebenarnya, ibu kami sangat rindu dan membutuhkan salah satu anaknya menemani di rumah. Sehingga bagi kakak saya, membahagiakan orang tua adalah berada di dekat orang tua saat mereka tidak lagi memiliki banyak teman dan pekerjaan dibanding sebelumnya.

Terbukti kemudian, kakak saya dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan dengan posisi lebih baik dan gaji secara relatif, lebih besar. Memang niat baik akan berbuah kebaikan juga. Kemudian yang saya lakukan? Saya mewajibkan diri untuk pulang ke rumah tiap 3 bulan, selain kini lebih aktif berkabar melalui berbagai channel. Juga berhubung kakak saya sudah “mengambil” kewajiban untuk tiap hari menemani ibu, maka saya mengambil kewajiban lain yang bersifat materi -saya bersyukur sudah mampu melakukannya- supaya kakak saya yang baru berumah tangga pun tidak kerepotan karena kini harus menjaga tiga wanita (ditambah adik kami) terpenting dalam hidupnya. Ibu saya? Beliau menjadi lebih bahagia daripada sebelumnya.

Digital Merekatkan dengan Mudah

Marilah kita mulai peka dengan SMS, WA, atau telepon orang tua kita. Kita harus memperhatikan tiap kata yang keluar. Siapa tahu, ternyata ada sebuah keinginan orang tua kita yang sekilas dengan lirih diucapkan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita punya kesempatan memenuhi keinginan itu.

Sebagai penutup, bos besar saya membagikan link iklan di YouTube ini sebagai pesan Natalnya, lagi-lagi tentang bagaimana kita harus membahagiakan orang tua.
https://youtu.be/V6-0kYhqoRo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *