Curcol Akhir Tahun

Dalam hitungan hari, Tahun 2015 akan berakhir. Bahkan bagi siswa sekolah dan beberapa pekerja, hari ini adalah hari bekerja terakhir di 2015. Esok sudah mulai libur dan voila… Tahun 2016 akan datang.

Saya sendiri termasuk golongan yang “nanggung”. Saya masih harus ngantor -meski tidak ada pekerjaan di kantor- sampai Selasa (22/12) tapi jiwa dan pikiran saya sudah ingin liburan. Berhubung sudah tidak ada pekerjaan tadi, maka saya memutuskan menulis cerita ini.

Kegaduhan di Akhir 2015

Terasa sekali kegaduhan di negeri tercinta Indonesia pada bulan-bulan terakhir 2015. Sampai-sampai saya tidak bisa fokus menemukan isu yang mau saya tulis. Kalau biasanya saya melihat fenomena atau mendengar orang berbicara dan kemudian timbul hasrat ingin menulis, saya malah bingung belakangan ini.

Tukang ojek, supir taksi, penumpang Metromini dan Kopaja, sampai teman seperjalanan menembus macet Ibu Kota; ceritanya beragam sekali. Saya melihat halaman depan koran dan majalah, makin beragam ceritanya. Dari kasus Ketua DPR, urusan keluarga artis yang muncul di TV, kecelakaan kendaraan umum, pelarangan aplikasi ini itu; membuat saya bingung harus menulis apa.

Saya jadi mengingat, sepertinya memang pertengahan kedua tahun ini, terlewat begitu saja. Banyaknya kegaduhan tadi kok sepertinya berpengaruh pada ketiadaan kejadian wow positif yang berdampak ke masyarakat. Semua berjalan lurus-membosankan karena semuanya lelah terlalu banyak menengok kanan-kiri melihat kegaduhan, maka kemudian makin tak acuh dan ya sudahlah, mari berkaca mata kuda saja ke depan.

Tahun 2015 yang Kosong

Nah, kekosongan yang saya ceritakan tadi tampaknya terjadi pula pada saya. Entah apakah di luar sana kosong, kemudian saya menjadi kosong. Atau apakah karena saya kosong, kemudian saya merasa di luar sana semuanya kosong.

Tapi intinya, saya seperti tidak memiliki gairah setengah tahun belakangan ini, baik untuk bekerja atau beraktivitas. Dalam pekerjaan, saya merasa semuanya berjalan dengan tenang, tanpa riak, dan itu membosankan saya! Saya merasa semua berjalan begitu-begitu saja, tidak ada yang wow, tidak ada yang menyedihkan; terasa hampa.

Dalam aktivitas keseharian, saya juga merasa semua berjalan rutin seperti biasa, tidak ada yang menggembirakan ataupun menyedihkan. Saya merasa lama-lama bisa menjadi robot yang selalu rutin berkegiatan.

Apakah ini yang dinamakan zona (terlalu) nyaman? Atau saya yang memangĀ rebek ingin mencari keribetan dan kesibukan. Yang pasti saya harus mencari sebuah break, sebuah interupsi kehidupan, sebelum saya semakin stres karena semuanya berjalan rutin.

Menatap 2016

Biasanya di pergantian tahun, orang berjanji kepada dirinya sendiri akan sebuah resolusi untuk tahun yang baru. Kalau saya ditanya apa resolusi saya? Di tengah kegalauan saya menjalani rutinitas? Saya akan menjawab……

Saya akan membuat semua orang di sekitar saya bahagia dengan kebahagiaan seperti yang mereka bayangkan, dengan cara dan waktu saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *