Berpindah-Pindah Nomor Tempat Duduk

Pengalaman ini saya rasakan tiga harian ini ketika long weekend. Beberapa kejadian di depan saya, orang-orang riweuh dan ribut soal berpindah nomor tempat duduk. Tidak di pesawat, kereta jarak dekat, maupun kereta jarak jauh; ada saja sekelompok orang yang berpindah nomor tempat duduk dan merepotkan orang-orang lain. Alasannya sama: supaya satu keluarga duduk di dalam kelompok yang sama, menjadi satu.

Malahan ada seorang ibu yang sempat berkata, “Tempat duduknya terserah kok, tadi saya sudah tanya ke Bapak itu (sambil menunjuk ke arah di mana tidak ada orang).” Jangan sampai setelah meme “ibu-ibu naik motor” bertebaran, bakal ada meme “ibu-ibu pindah tempat duduk”.

Kenapa Mereka Menyebalkan?

Bagi saya, tindakan sekelompok orang ini tidak bisa dibenarkan. Pertama, apa yang mereka lakukan ini bisa membuat data penumpang kacau apabila terjadi kecelakaan ada data permintaan khusus. Misalnya terjadi kecelakaan dan si B ternyata duduk di kursi si C, bisa-bisa nanti salah mengirim jenazah ke keluarganya. Atau misalnya si E yang muslim duduk di kursi si F yang non-muslim dan memesan babi di makanan pre-departure, wah bisa repot itu.

Hal kedua, tindakan sekelompok orang ini sangat egois menurut saya. Seperti kejadian di kereta jarak pendek: sekelompok keluarga “memaksa” dua orang yang seharusnya duduk di kursi mereka berpindah gerbong. Tidak hanya berpindah kursi, tapi berpindah gerbong! Semua hanya karena si keluarga mau duduk menjadi satu. Celakanya, sekeluarga ini turun tidak di stasiun terakhir. Nah jadinya dua orang yang berpindah tadi, terusir kembali dari tempat duduk original si keluarga, berpindah ke tempat duduk seharusnya mereka berdua berada. Si keluarga jelas merepotkan. Si dua orang ini baik hati atau bodoh? Silakan Anda menilai sendiri.

Ketiga, hal menyebalkan dari orang-orang berpindah tempat ini, (setidaknya yang saya alami) tidak memberikan solusi bagi orang yang diminta pindah. Seperti di kereta jarak jauh yang sekarang saya naiki, ekelompok orang ini sekedar berkata, “Saya aslinya duduk di Gerbong 3 Nomor 15C (dan dia duduk di Gerbong 1), Mas pindah ke sana saja.” Kalau itu saya dan sedang membawa banyak barang, sudah saya usir orang yang menduduki kursi saya!

Keempat, orang-orang yang menduduki kursi orang lain dan memaksa mereka pindah, melakukannya sebelum pesawat/kereta berjalan. Kalau sudah berjalan -dan lapor kepada petugas yang berwenang, tentu ketiga hal di atas bisa dihindari eksesnya.

Epilog

Dalam sistem canggih pemesanan kereta dan pesawat sekarang ini, kita bisa memilih tempat duduk. Seseorang memilih tempat duduk tertentu pasti ada tujuannya. Seperti saya jika memilih deret aisle di pesawat siang, itu karena biasanya saya beseran setelah makan siang. Atau misalnya saya memilih kursi menempel jendela kalau pesawat atau kereta malam, itu karena saya ingin tidur bersandar tanpa terganggu. Bagi penumpang lain, saya yakin alasannya juga lain: bisa berdekatan atau bisa segera keluar, tidak berisik, wilayah kaki lebih lapang, dan lain sebagainya. Apabila sebelumnya lupa atau tidak memilih tempat duduk, ya sudah pasrah saja mendapat duduk di mana, tidak perlu memaksa orang berpindah. Ya itu namanya resiko tidak memilih tempat duduk sebelumnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *