Euro Pilgrimage Trip : Transit in Bangkok

Siang ini berangkatlah saya memulai euro pilgrimage trip saya bersama ibu. Menggunakan Thai Airways, saya berangkat menuju Bangkok untuk transit sebelum berganti pesawat Lufthansa hingga (via Frankfurt) Paris nanti. Berhubung tiketnya berupa terusan CGK-BKK-FRA-CDG, maka bagasi saya masuk di Cengkareng dan bisa diambil nanti di Paris, tidak perlu sibuk membawa-bawa koper ketika beberapa kali transit. Cukup khawatir juga sih apakah koper-koper kami akan selamat hingga di tujuan (updated : semua barang kami tiba dengan selamat di Paris CDG).

Enam jam transit di Suvarnabhumi, ternyata tidak semenyenangkan saat lama transit di HKIA atau Incheon yang berlimpah makanan dan barang-barang murah. Stall makanan di sini tergolong sedikit, kemudian toko-toko diisi merek-merek mahal dan ternama. Bandara ini tergolong besar dengan empat lantai, tipikal bandara yang menggabungkan semua terminal dalam satu tubuh, seperti HKIA atau Beijing Capital Intl Airport. Kalau Soekarno-Hatta (Soetta), Changi, atau JFK, tiap terminal tadi terpisah satu sama lain.

Suvarnabhumi juga (sepenglihatan saya) tidak bagus-bagus amat dalam hal kualitas bangunan. Lantainya keramik biasa, tidak ada apa-apanya dibanding lantai marmer T1 dan T2 Soetta. Besi dan temboknya hanya cat abu-abu biasa, malah saya pikir temboknya hanya semen halus tidak dicat; masih jauh lebih baik T3 Soetta kita meski belum 100% beroperasi.

Namun saya lihat, personel perawatannya luar biasa, selalu “berkeliaran” di sana-sini sepanjang saya transit dan berkeliling -saya asumsikan mereka bekerja 24 jam karena saya terbang jam 11 malam. Ini yang belum saya temukan di bandara manapun di Indonesia: tingkat perawatan yang detail dan terus-menerus. Sebuah bangunan bagus atau jelek, akan lama umur dan kualitasnya, tentu bergantung pada aspek perawatan yang dilakukan.

Juga yang menjadi kelebihan Suvarnabhumi tentu konektivitasnya ke rute internasional. Soetta hanya memiliki puluhan destinasi langsung internasional, sedangkan Survanabhumi ratusan.!! Bayangkan..!! Maka jangan bertanya kenapa dunia lebih mengenal Thailand daripada Indonesia, kenapa Bangkok dan Pattaya lebih dikenal daripada Jakarta dan Bali.

Seperti penerbangan Lufthansa saya ini. Ia memiliki rute langsung dari Frankfurt ke Bangkok (juga Singapura dan Kuala Lumpur). Okupansi pesawat juga penuh dan 90%-nya adalah bule kulit putih. Selain saya membayangkan berapa pendapatan Thailand dari bule-bule ini, saya juga membayangkan cerita tentang Thailand makin tersebar melalui mereka. Pun mereka hanya menjadikan Bangkok sebagai kota transit (seperti saya ini), mereka sempat melihat kemegahan dan bandara beserta fasilitasnya. Jadi mungkin di benak mereka akan terucap: “Saya akan mengunjungi negara ini di lain waktu.” Maka bisa dikatakan: RUTE PENERBANGAN LANGSUNG INTERNASIONAL ADALAH KUNCI. Jakarta dan Bali harus menambah rute langsung internasionalnya. Jakarta dan Bali harus memperbanyak diri sebagai hub internasional. Misalnya penerbangan menuju Australia semuanya transit terlebih dahulu di Jakarta atau Bali, tentu akan menambah pengetahuan dunia tentang Indonesia.

Beruntung, para pembuat kebijakan sekarang ini mulai berpikir ke arah sana. Infrastruktur dan penunjangnya mulai disiapkan supaya banyak maskapai membuka penerbangan langsung ke Indonesia. Apalagi, orang Indonesia makin gemar terbang ke luar negeri, tentu bisa sedikit menjamin keterpenuhan okupansi maskapai-maskapai tersebut.

Dus, saatnya saya boarding menuju Frankfurt. Para petugas lancar berbahasa Inggris; hal lain yang patut dicontoh oleh petugas kita di Indonesia yang bersentuhan dengan rute internasional.

*Tulisan ini adalah bagian dari series Euro Pilgrimage Trip saya pada 11 – 24 Sept 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *