Euro Pilgrimage Trip : Paris

Paris is Paris. Ini adalah kedua kalinya saya mengunjungi Paris. Berselang enam tahun, Paris tetap dan mungkin akan selalu membuat saya takjub. Bahkan saya dan ibu mengelilingi Paris selama sembilan jam berjalan kaki di hari pertama dan enam jam di hari kedua! Itupun saya yakin belum menjelajahi semua sudut kota cahaya ini.

Maaf lho kalau misalnya cerita saya tidak detail karena Paris memang akan puanjanggg sekali kalau diceritakan satu persatu. Belum lagi kalau tiap tempat dituliskan nilai sejarah atau arti pentingnya untuk kehidupan dunia ini, wah bisa ratusan jilid buku harus diterbitkan. Kalau misalnya mau menggali lebih dalam, Mbah Google tentu siap membantu kita semua.

Di hari pertama, berikut itinerary saya:
09.00 : Musee du Louvre
12.30 : Makan Siang
13.00 : Pont des Arts dan Pont Neuf
14.00 : Katedral Notre-Dame
15.00 : Bawah Tanah Sungai Seine
16.00 : Pantheon
17.00 : Jardin du Luxembourg
18.00 : Gereja St. Sulplice
19.00 : Makan Malam

Musee du Louvre

Musee du Louvre wajib dikunjungi pertama dan pagi hari! Plus Anda lebih baik membeli tiket secara online terlebih dahulu. Apabila dua hal tadi tidak dilakukan, maka sudah dipastikan Anda akan masuk ke dalam antrean sepanjang ular naga.

Luar biasa! Itu kata yang bisa saya ucapkan ketika melihat dan mengunjungi museum ini. Dari jumlah pengunjung, ukurannya, arsitektur, hingga koleksinya; semuanya masif. Tentu tidak salah Louvre adalah salah satu museum terbesar dan terlengkap di dunia. Beruntung, dari segala perang yang pernah Prancis rasakan, bangunan ini mampu bertahan.

Masuk ke sini, tentu tujuan utama saya adalah lukisan Mona Lisa dan patung Venus de Milo. Tujuan lain, tentu yang sudah ataupun yang banyak belum saya lihat enam tahun lalu. Dari koleksi mesir zaman lampau, mesopotamia, helenistic, renaissance Prancis, lengkap ada di sini. Mungkin yang Louvre tidak punya adalah hal-hal mengenai Asia Tenggara dan Timur Jauh; yang tampaknya banyak dimiliki Rijks Museum di Amsterdam, Belanda.

Menyusuri museum ini, bahkan saya rasa hanya seperempatnya, saya menghabiskan waktu 4 (empat) jam. Itupun beberapa selewatan melihat tanpa membaca deskripsi karya seni yang ada. Mungkin diperlukan sebulan penuh untuk menjelajahi seluruh bangunan ini, termasuk taman-taman, pojok tersembunyi, dan basement.

Sebagai informasi tambahan, lagi-lagi saya membeli sarapan di Paul -ada kiosnya di dalam kompleks museum. Harganya murah dan banyak orang mengantre. Saya sudah memastikan, ini Paul proletar Prancis yang kalau di Jakarta menjadi kafe premium. Yahhh begitulah.

Pont des Arts, Pont Neuf, Katedral Notre-Dame, & Bawah Tanah Sungai Seine

Dari Louvre, saya bergerak ke Katedral Notre-Dame yang ada di pulau di tengah Sungai Seine. Melewati Pont des Arts, saya sebenarnya ingin melihat ribuan gembok cinta yang dikaitkan di situ. Ternyata semua gembok cinta ini sudah dibongkar demi keamanan jembatan. Jadi beberapa orang mengaitkan gembok di pagar kecil di samping jembatan ini serta di Pont Neuf. Pont Neuf sendiri adalah jembatan tertua yang masih berdiri melintangi Sungai Seine, sejajar dengan Pont des Arts. Oh ya, di ujung Pont des Arts, ada bangunan keren tempat Institute de France berada.

Sampai di Notre-Dame, saya langsung masuk ke dalamnya. Sedikit berubah dari enam tahun lalu, dengan penambahan artefak di beberapa tempat, Notre-Dame nampak semakin religius: jalur pengunjung mulai diperkecil dan diarahkan, bagian religius untuk umat berdoa diperbanyak. Yang pasti bangunan yang sudah 850 tahun berdiri ini tetap menakjubkan untuk dilihat dan diketahui sejarahnya.

Tepat di depan Notre-Dame, ada tangga kecil ke bawah untuk melihat jejak antropologi dan bangunan Paris sejak masa kota ini bernama Lutetia. Saya baru tahu kalau Paris ini sama dengan Roma dalam hal pembangunan kota, yakni menumpuk kota sebelumnya dengan bangunan di atasnya; sehingga seperti bangunan di bawah tanah ini merupakan penemuan yang luar biasa.

Sebelum melanjutkan jalan-jalan saya ke Pantheon, saya menyempatkan membeli crepes di pedagang keliling. Menggunakan gerobak sepeda, dagangannya laris karena selain (menurut lidah dan perut saya) enak, tampilannya ringkas dan bersih, serta penyajiannya cepat. Nyammmm saya yang kelaparan melahap crepes rasa gula dan nutella.

Pantheon, Jardin du Luxembourg, & Gereja St. Sulplice

Beranjak ke Pantheon, saya melewati banyak bangunan menakjubkan, salah satunya adalah Sorbonne, Universite de Paris. Ternyata banyak orang mengantre masuk ke universitas ini untuk sekedar melihat interior aula utama salah satu universitas bergengsi di dunia dan universitas kedua tertua di Eropa ini. Oya, Sorbonne sendiri sebagai Universitas Paris kini terbagi ke 13 sub-universitas yang independen satu sama lain; bernomor Sorbonne I s.d. XII, dengan nama-nama seperti Pantheon-Sorbonne, Paris Dauphine, juga Paris Nord.

Hanya sepelemparan batu dari sana, saya sudah sampai di Pantheon, bangunan yang awalnya adalah gereja untuk St. Genevieve, santa pelindung Kota Paris. Dibangun pada masa Louis XV, bangunan ini terletak di ujung V Arrondissement. Pada masa itu, Paris terbagi menjadi 20 arrondissement dan V adalah yang wilayah tertua. Dari Pantheon sini, boulevard besar mengarahkan Anda ke Jardin du Luxembourg dan Menara Eiffel.

Sempat menjadi gereja dan menyimpan relikui St. Genevieve, bangunan ini berubah menjadi makam orang-orang terkenal dan berjasa Prancis ketika masa Revolusi. Di dalamnya, Anda bisa menemukan makan J.J. Rosseau, Pierre dan Marie Curie, pelukis terkenal Monnet, sampai Voltaire. Relikui St. Genevieve sendiri kemudian dipindahkan ke Gereja Saint-Étienne-du-Mont yang terletak di belakang Pantheon.

Selesai dari Pantheon, saya pun bergerak ke Jardin du Luxembourg. Ternyata di tengah taman ini terdapat istana dan museum. Istananya menghadap selatan, menyampingi Pantheon tadi. Di depan istana, tamannya luar biasa rapi, sejajar, dan tertata. Pernah menjadi istana ibu suri regent raja dan kantor parlemen, kini taman istana digunakan untuk aktivitas publik. Dari sekedar duduk-duduk, hingga bermain tenis di lapangan, semua ada di taman luas ini. Tampaknya kota-kota besar di Eropa, setidaknya Paris, Amsterdam, dan London yang pernah saya kunjungi, selalu memiliki taman-taman luas di tengah kota.

Hanya berbelok sedikit dari Jardin du Luxembourg, ketika saya ingin mengarah pulang mencari stasiun Metro, saya menemukan gereja St. Sulplice. Tipikal gereja tua di Prancis, selalu ada cerita sejarah di baliknya dan benda antik di dalamnya. Seperti gereja-gereja zaman pertengahan, St. Sulplice memerlukan ratusan tahun hingga menjadi berbentuk sekarang ini. Dari bentuk kotak, ditambahkan satu menara, hingga penambahan menara kedua yang tak pernah selesai akibat perang; mewarnai perjalanan gereja ini.

Sacre-coeur dan Sepanjang Champs-Elysees
Hari kedua menjelajahi Paris, saya hanya mengunjungi sedikit tempat, melengkapi hari sebelumnya.
10.00 : Basilika Sacre-coeur
12.30 : Makan Siang
13.30 : Arc de Triomphe
14.30 : La Defense
15.30 : Boulevard Champs-Elysees

Menuju Basilika Sacre-coeur, kita harus bersiap-siap menaiki tangga menanjak. Gereja ini ada di Paris bagian utara dan berada di puncak bukit. Bagian eksterior gereja seluruhnya berlapis marmer putih dan bentuknya lebih ke arsitektur gaya Baroque. Gereja ini unik karena letaknya di bukit yang bisa melihat seluruh Paris, juga karena Baroque-nya yang berbeda dengan gereja bergaya Gothic ala Paris.

Dua informasi penting untuk Anda adalah (1) ada kereta dari bawah ke atas sampai basilika dan sebaliknya bagi yang tidak kuat jalan, (2) kondisi di Paris utara ini agak kumuh dan rawan kriminalitas. Untuk kereta tadi, sistem dan harga tiketnya sama persis dengan sistem Metro Paris; cukup beli tiket di mesin yang ada dan masuk ke gerbang kemudian naik/turun. Sedangkan agak kumuh dan rawan kriminalitas, saran saya sih ya berhati-hatilah.

Bergerak ke Arc de Triomphe, monumen ini merupakan jantung kota Paris, baik secara lokasi ataupun nilai-nilai. Lokasinya menjadi pusat kota, mengarahkan penataan kota “keluar” dari pusat lingkaran Arc de Triomphe. Secara nilai, bangunan ini menjadi simbol kemenangan Prancis atas berbagai perang sejak masa Napoleon.

Arc de Triomphe sendiri apabila ditarik garis lurus, akan melalui Boulevard Champs-Elysees hingga ke Museum Louvre. Ke arah sebaliknya, garis lurus mengantarkan Arc de Triomphe ke La Defense, pusat bisnis kota ini. Champs-Elysees sendiri merupakan boulevard dengan toko-toko bermerek di kanan-kiri. Mendekati ujung boulevard, terdapat juga kediaman Presiden Prancis, beberapa eks-istana kerajaan, serta Musse de l’Armee.

Sedangkan La Defense adalah tempat di mana kita bisa menemukan Paris dengan bangunan pencakar langit kaca masa kini. Di daerah lain, kita hanya menemukan bangunan-bangunan kuno bersejarah, dengan pencakar langit atau menara gaya lama. Tapi di La Defense, suasananya sangat berbeda, sangat bisnis. Yang menarik, wilayah ini mempertahankan apa yang Paris selalu punya di sana-sini: sebuah lapangan luas untuk orang berkumpul atau berlalu-lalang.

Epilog

Lagi-lagi Paris (dan Prancis) sangat beruntung. Sejak zaman Romawi, dark ages dan renaissance, Perang Dunia, hingga sekarang ini; semua benda dan catatan sejarahnya lengkap. Saya tidak bisa membayangkan wilayah Timur Tengah yang selalu kehilangan catatan dan peninggalan bersejarah ketika dilanda perang; tidak saat diserbu Mongol zaman dahulu kala maupun serangan ISIS belakangan ini. Keberadaan catatan dan peninggalan sejarah adalah syarat mutlak sebuah bangsa bisa terus eksis di dunia ini..!!

Raja, ratu, panglima perang, dan filsuf boleh meninggal; tapi hanya mereka yang menuliskan atau tertuliskan kisahnya dalam sejarah, akan terus diingat orang sampai akhir zaman.

Lumayan banyak foto-foto yang saya ambil selama di Paris. Silakan lihat-lihat di sini: fb.com/assed/albums/10209775182831289/?ref=bookmarks

*Tulisan ini adalah bagian dari series Euro Pilgrimage Trip saya pada 11 – 24 Sept 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *