Euro Pilgrimage Trip : Lufthansa

Dalam perjalanan kali ini, saya menggunakan Lufthansa sebagai moda transportasi udara utama. Seperti saya ceritakan di sini, saya memilih maskapai ini karena sedang promo. Ternyata maskapai besar seperti Lufthansa atau KLM sering menawarkan promo yang kadang terlewat oleh kita orang Indonesia hanya karena maskapai ini tidak terlalu familiar kita gunakan.

Rute saya kali ini adalah Jakarta-Bangkok-Frankfurt-Paris untuk berangkat, kemudian Roma-Frankfurt-Singapura-Jakarta untuk kembalinya. Cukup repot bukan kalau kita mau bepergian dari Indonesia ke kota-kota besar Eropa. Itupun kalau memasukkan rute ibu saya, beliau menambah Solo-Jakarta dan Jakarta-Solo di perjalanannya. Ada banyak alasan Indonesia harus menambah rute penerbangan langsung internasionalnya, seperti saya singgung di artikel sebelumnya. Oh ya, awalnya semua hanya transit di Singapura dan Frankfurt karena masing-masing hanya transit 1 (satu) jam. Namun adanya perubahan jadwal penerbangan membuat saya harus menyesuaikan rute, maka jadilah saya transit di Bangkok untuk keberangkatan.

Bagi saya, menggunakan Lufthansa, bersama dengan Thai Airways dan Singapore Airlines, adalah yang pertama kali. Jarang-jarang saya menggunakan maskapai full service dari grup Star Alliance seperti mereka. Terakhir kali, saya menggunakan jajaran Star Alliance adalah Asiana Airlines. Di kepala saya, maskapai-maskapai Star Alliance itu lebih premium dibandingkan kelompok Sky Team (yang mana ada Garuda, Korean Air, dan KLM di dalamnya). Tapi sebenarnya, layanan mirip-mirip saja, namanya juga maskapai full service.

Perjalanan saya dimulai dengan check-in di Soekarno-Hatta di Jakarta. Saat check-in di sana, semua penerbangan saya sudah langsung ter-checked-in, terbagi dalam tiga rute. Bagasi saya mendapatkan tag untuk berkesinambungan diambil di Paris nanti. Untuk pertama kalinya juga, saya berpindah maskapai dalam long-haul trip. Perjalanan jauh saya terakhir adalah Jakarta-Hong Kong – New York, namun semuanya menggunakan satu maskapai, berbeda dengan sekarang yang menggunakan dua maskapai. Alhamdulilah semua bagasi dengan selamat tiba di Paris.

Secara interior, Thai Airways lebih colourful, cerah dengan gradasi warna di kursi-kursinya. Sedangkan Lufthansa, standar warnanya, namun kursi didesain sedemikiam rupa sehingga pas untuk duduk dan tidur nyaman untuk perjalanan jauh. Singapore Airlines sendiri, seperti halnya Bandara Changi: bersih, rapi, fully-equipped, dan terlihat mewah. Konfigurasi (kebetulan saya menaiki big body -B777 dan A350- untuk semua pesawat tadi) kursinya adalah 2-4-2 untuk kelas ekonomi; dan sangat pas untuk saya yang bepergian hanya berdua dengan ibu, tentu memilih sisi konfigurasi 2.

Kalau soal bandara, Changi dan Suvarnabhumi bisa dibilang lebih megah dan ramai dibanding Soekarno-Hatta (Soetta). Ya semoga dengan adanya T3U Soetta, bandara Indonesia bisa menyaingi mereka. Berhubung hanya transit sebentar di Frankfurt dan Charles de Gaulle (CDG), saya tidak bisa berkomentar banyak. Pastinya dua bandara ini masuk yang tersibuk di wilayah Eropa dan terlihat besar saat pesawat saya parking. Frankfurt terlihat modern sedangkan CDG merupakan bangunan tua yang dipoles dan ditambah fasilitasnya.

Sempat terbang dari Orly, Prancis ke Pisa, kedua bandara ini mirip Halim, kecil, namun berinterior bagus seperti T3 lama Soetta. Bandara terakhir, Leonardo da Vinci Fiumicino di Roma, tidak terlalu besar. Terminal terbesar yang ia miliki tidak lebih besar daripada T2 Soetta. Yang pasti dari semua bandara itu, sistemnya sudah terbuka; semua orang bisa masuk dan begitu masuk, melihat area check-in, sehingga terkesan luas. Seandainya T1 dan T2 Soetta bisa begini juga, pasti akan terlihat jauh lebih luas karena banyak sekat dihilangkan. Juga diperlukan perbaikan menyeluruh untuk T1 dan T2. Ketika saya mendarat dari Singapura dan melewati lorong kedatangan, T2 Soetta mengalami kebocoran karena hujan dan hanya ditampung menggunakan kotak-kotak kebersihan milik cleaning service. Miris dan menyedihkan!

Lufthansa dan Fasilitasnya

Kembali fokus ke Lufthansa sebagai moda utama, kabin pesawat ini dilengkapi wi-fi dan jaringan GSM! Berbeda dengan maskapai lain yang masih melarang penggunaan HP di dalam pesawat, Lufthansa malah meng-encourage penumpangnya. Tapi memang, dua layanan ini tidak dapat digunakan saat landing dam take-off. Keduanya dapat digunakan pada saat pesawar sudah memasuki mode jelajah. Bagi penumpang First dan Business, tentu semua layanan tadi disediakam gratis. Bagi Economy, tentu ada biaya yang harus dibayarkan, namunĀ  masih affordable kalau memang kita sangat membutuhkan dua layanan itu, untuk sembari kerja misalnya. Khusus pelanggan Indosat, Anda bisa dengan gratis mengakses internetĀ  password akan dikirimkan melalui sms ke HP Anda.

Anyway, saya memilih Lufthansa juga karena saya ingin merasakan naik Airbus A380 miliknya. Pesawat ini digunakan dalam rute Frankfurt-Singapura. Dari awalnya saya berkesempatan mencobanya dua kali, karena perubahan jadwal tadi, saya pun hanya menikmatinya saat pulang. Khusus perjalanan pulang ini, saya sengaja memesan kursi di lantai 2 pesawat. Jarang-jarang kalangan ekonomi bisa duduk di lantai yang penuh dengan kelas utama dan bisnis; hanya tersedia 4 baris ekonomi di lantai atas sana.

Sedangkan untuk rute lain, saya menggunakan Airbus A340 dan A350 yang ukurannya hampir sama besar dengan B777-300 milik Garuda. Kalau Garuda bisa mengkonfigurasinya menjadi tiga kelas, Lufthansa-Thai Airways-Singapore Airlines hanya menempatkan dua kelas untuk pesawat sebesar itu.

Untuk A380, jika memilih duduk di atas, konfigurasi kursi ekonomi 2-3-2, sedangkan di bawah 3-4-3. Untuk perjalanan jauh, tentu mendapat konfigurasi 3-4-3 selain sesak, juga sulit bergerak keluar untuk jalan-jalan meluruskan kaki.

Dari sisi penyediaan cemilan dan makanan, semuanya standar, dan semuanya masih kalah dengan Cathay Pacific! Makanan memang disediakan tepat waktu, namun cemilan dan minuman harus meminta ke awak kabin. Kalau di Cathay Pacific, semuanya tersedia di pantry dan kita tinggal mengambilnya. Itu sih dari sudut pandang penyuka makanan seperti saya. Kalau menurut ibu saya, justru makanannya berlebih sekali, bahkan ada satu sesi makan yang tidak disantap.

Oh ya, di cerita lain, saya menulis bagaimana penerbangan menggunakan B777 rute Bangkok-Frankfurt full terisi. Kali ini dengan A380 yang sangat besar ini, rute Frankfurt-Singapura juga full. Disampaikan sebelumnya, Lufthansa terbang direct dari Frankfurt ke Bangkok, Singapura, dan Kuala Lumpur. Tentu saya sangat berharap akan ada penerbangan Frankfurt-Jakarta direct dan full terisi, supaya Indonesia makin dikenal oleh masyarakat Eropa.

Terakhir, untuk inflight magazine, Lufthansa juaranya! Semuanya cetakan tertata rapi dalam satu sampul; tidak seperti Thai Airways (dan Garuda Indonesia) yang majalah atau shop catalogue sudah ada yang sobek kalau kita terbang di minggu ketiga dalam bulan itu. Inflight entertainment, Lufthansa dan Singapore Airlines sama lah levelnya, hampir 300 film tersedia, juga ribuan lagu. Touch screen Lufthansa sudah capacitive screen, bukan resistive seperti Thai Airways dan Garuda Indonesia -justru Batik Air sudah menggunakan capacitive screen. Tapi ya jangan berharap ada subtitle Bahasa Indonesia di maskapai selain Garuda Indonesia. Juga tentu tidak ada pramugara/i yang melayani kita menggunakan Bahasa Indonesia. Menyinggung sedikit tentang pramugara/i, usia kru Lufthansa rata-rata (tebakan saya) di atas 40 tahun, berbeda dengan maskapai-maskapai dari Asia yang biasanya di bawah 30 tahun. Saya masih mencoba bertanya ke beberapa rekan kenapa tidak (atau saya tidak melihat) pramugara/i muda Lufthansa di penerbangan saya.

Ah hampir terlupa, saya mengalami delay di Frankfurt untuk sesi penerbangan menuju Paris. Semua penumpang kelas bisnis sudah masuk, namun ada hal teknis yang membuat pesawat delay 20 menit. Sebelumnya, saat diumumkan delay, petugas menyatakan akan terlambat 20 menit. Tepat sekali target penyelesaian mereka..!!

Satu catatan buruk dari Lufthansa adalah waktu transit yang hanya 1 (satu) jam di Frankfurt. Kalau Anda mendapatkan waktu transit ini dan tidak bisa mengubahnya, siapkan diri Anda untuk berlari karena waktu mepet sekali untuk turun dari pesawat, melewati imigrasi dan pemeriksaan keamanan, untuk kemudian menuju boarding gate.

Maka begitulah kisah saya menerbangi maskapai grup Star Alliance. Soal layanan, memang belum lah Lufthansa dan Thai Airways masuk ke dalam bintang lima. Meski Lufthansa adalah salah satu yang teraman di dunia, layanannya standar saja. Kalau Thai Airways, memang menurut saya harus ditingkatkan kebersihan dan keramahannya. Seandainya banyak rute murah/promo Garuda ke berbagai kota di Eropa, saya masih akan lebih memilih maskapai nasional tercinta ini.

*Tulisan ini adalah bagian dari series Euro Pilgrimage Trip saya pada 11 – 24 Sept 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *