Mencoba Menularkan Profesionalisme Positif

Beberapa hari lalu, seorang junior di kantor mengirimkan pesan pribadi kepada saya, memprotes mengapa ia diperlakukan berbeda. Ketika saya tanya lebih dalam maksudnya diperlakukan berbeda, ia menjawab, “Yang lain di levelku, tidak dituntut untuk bisa melakukan pekerjaan itu dengan perfect. Mereka juga kalau melakukan kesalahan beberapa kali, tidak ditegur keras seperti Mas ke aku”.

Pada intinya, ia gusar kenapa selalu saya tegur saat berbuat kesalahan, hal terkecil sekalipun. Sedangkan orang lain di level dia, tidak pernah ditegur oleh atasannya. Akhirnya saya memberikan beberapa pesan untuknya untuk perbaikan. Ya meskipun ia masih membentengi dirinya dari masukan saya, setidaknya bisa lah terciprat sedikit.

Pertama, saya memintanya untuk selalu sempurna dalam mengerjakan suatu dokumen. Kesempurnaan itu mencakup pemilihan konten yang tepat dan penyajian dokumen tanpa typo. Junior saya ini kebetulan sering sekali typo dalam mengerjakan sebuah dokumen. Ia berpikir bahwa klien tidak akan terlalu memperhatikan typo yang ada karena hanya satu atau dua huruf. Namun saya katakan padanya, pengalaman saya berhubungan dengan klien (juga jurnalis dan publik umum), typo adalah persoalan besar kredibilitas, terutama bagi konsultan komunikasi. Sebuah typo dapat menimbulkan persepsi ketidakprofesionalan, ketidakcermatan, hingga niat tidak mencerdaskan masyarakat. Oleh karena itu, saya kembali menegaskan kesempurnaan sebuah dokumen yang akan diserahkan ke klien.

Kedua, junior saya ini mencontoh semua perbuatan para senior, baik positif maupun negatif. Saya katakan padanya untuk mencontoh semua perbuatan positif, tapi jangan yang negatif. Justru kalau ia melihat hal negatif dilakukan oleh seniornya, ingatkan, bukan biarkan dan dicontoh. Ini saya katakan karena beberapa kali saya menasehati dia, ia menjawab dengan santai, “Loh Mas Z melakukan itu juga kok. Kak A bikin hal kayak gitu dan ga masalah.” Selain geleng-geleng kepala, saya dengan tegas mengingatkan bahwa ia adalah seorang dewasa yang mampu membedakan hitam dan putih, bukan balita atau bebek yang mengikuti semua yang ia lihat.

Ketiga, saya dengan keras mengingatkan dia untuk berhati-hati dalam mengirim surat elektronik (surel / email). Kebetulan lagi, junior saya ini sering salah mengirim surel atau salah melampirkan dokumen dalam surel tersebut. Selain bisa menimbulkan kesalahpahaman, kesalahan mengirim juga berakibat kekesalan pada orang yang dituju -bahwa penerima sudah memberi masukan / me-review dokumen yang dilampirkan, namun masih saja tidak dibetulkan. Pernah terjadi, akibat kesalahan dokumen yang dilampirkan, supervisor dari junior saya tadi me-review dokumen yang salah selama 3 (tiga) jam. Sungguh mengesalkan dan membuang waktu, bukan?

Keempat, saya mengingatkan junior saya tadi bahwa 2016 adalah tahun digital. Artinya, orang tidak lagi bisa memperlakukan pesan WhatsApp (WA) atau surel seperti zaman dulu sebagai sebuah surat yang dapat dibalas di kemudian hari. Memang sifat natural surat, atau bahkan surel sebelum tahun 2000, adalah sesuatu yang dapat ditunda membalasnya. “Apabila memang penting, orang pasti akan menelepon,” kata orang zaman dahulu. Namun di tahun 2016 ini, WA dan surel sama pentingnya dengan telepon, bersifat segera karena itulah platform komunikasi digital saat ini. “Kalaupun kamu merasa terganggu dengan WA saya, boleh kok kontak saya di-mute. Tapi untuk grup yang berisi klien, sebaiknya selalu hidup notifikasinya,” kata saya. Saya menambahkan masukan juga bahwa krisis yang dihadapi klien zaman sekarang harus segera direspon dalam hitungan jam. Akan menjadi bencana besar kalau klien dalam keadaan krisis di lapangan, tidak mungkin menelepon dan hanya bisa WA, ternyata pesan mereka tidak dibaca hanya karena notifikasi WA mati.

Kelima, junior saya ini suka sekali berargumen dengan para senior. Dari assignment sampai review, ia merasa apa yang ia kerjakan sudah benar dan tidak perlu dikoreksi. Untuk hal ini saya katakan padanya, “Silakan kalau kamu mau berargumen. Pesanku, argumenmu harus berdasar data yang valid, tidak hanya pendapat pribadi atau (maaf) pengalaman kuliah di kampus. Dunia profesional adalah dunia yang berbeda dengan kampus, dunia yang kejam kalau kita tidak memiliki basis argumen yang kuat, yakni data yang valid.”

Terakhir, saya meminta ia menonton film seri Suits. Di sana Harvey Specter mengharapkan associate-nya, Mike Ross, untuk bisa mencapai hal yang lebih dari standar kebanyakan. Kalimat penutup pesan saya ke dia pun, “Kalau kamu berharap diperlakukan dengan standar profesional seperti teman-teman yang lain dan tidak mau mencoba melebihi standar itu, aku bisa melakukannya. Tapi bersiaplah juga memiliki karir yang standar-standar saja.”

Saya menyebutkan nama-nama orang lain di kantor yang pernah berada di tim saya, bagaimana mereka dapat mengerjakan dengan luar biasa. Hasil kerja mereka sempurna dan memuaskan, pun dapat terus berkembang di topik industri lain. Bahkan ada seorang di antara mereka yang kini satu level dengan saya.

Saya juga memberikan contoh padanya bagaimana ada seorang senior yang naik level hanya karena “belas kasihan”. Ia naik level hanya karena masa bekerja yang sudah lama dan kenaikan gaji di kantor saya mentok kalau seseorang tidak naik level. Senior ini secara makro melakukan sesuatu yang benar, tapi tidak pernah memperhatikan hal kecil. Saat ia mencoba kesempatan (baca: melamar pekerjaan) di kantor lain, ia ditawarkan posisi yang lebih rendah dari yang diharapkan hanya karena surat lamarannya memiliki typo.

Mungkin saya terlalu keras dan perfeksionis. Tapi saya selalu berharap apabila saya memiliki kesempatan membimbing seorang apprentice, ia akan dan harus mampu melebihi pencapaian saya.

5 thoughts on “Mencoba Menularkan Profesionalisme Positif”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *