Negosiasi vs Argumentasi vs Strategi

Ketika menjelajahi internet, saya menemukan tulisan saya sendiri, sebuah resensi film Thank You for Smoking. Secara ringkas, film itu bercerita tentang konsultan yang memiliki keahlian memecat orang. Beberapa poin penting dalam cerita juga ada di dalam resensi saya berikut. Namun bila ingin tahu cerita lengkapnya, Anda bisa menemukannya di sini.

Tulisan saya ini di-upload oleh dosen saya, Mbak DK, beberapa tahun yang lalu di blog UGM miliknya. Saya menuliskan apa perbedaan negosiasi, argumentasi, dan strategi pada resensi film ini. Saya akan menuliskan ulang resensinya di bawah tanpa mengedit kontennya. Tampaknya apa yang saya pelajari dan resensikan beberapa tahun lalu, sangat relevan dengan apa yang saya lakukan di pekerjaan sekarang-sekarang ini.

Negosiasi vs Argumentasi vs Strategi

Film Thank You for Smoking menggambarkan kehidupan seorang lobbyist yang bekerja pada perusahaan rokok. Tugas seorang lobbyist tentu saja mengusahakan tercapainya keinginan perusahaan serta mempertahankan kebenaran tindakan perusahaan tersebut. Film ini juga menunjukkan perbedaan antara argumentasi, strategi, dan negosiasi, serta kapan dan bagaimana kedua hal tersebut sebaiknya dilakukan. Berikut ini akan diberikan tabel untuk mempermudah pembedaan serta penjelasan berargumentasi, bernegosiasi, dan berstrategi, terutama yang ditampilkan sepanjang film.

Negosiasi

  1. Merupakan tindakan dua arah.
  2. Kedua belah pihak yang bertentangan, berusaha mencapai satu kesepakatan yang saling menguntungkan.
  3. Negosiasi seringkali dilakukan tidak around the table.
  4. Film ini meyakini bahwa seorang negosiator diyakini merupakan bawaan alami yang hanya dapat diasah, bukan dilatih.
  5. Perlunya seorang negosiator memikirkan BATNA.

Argumentasi

  1. Hanya merupakan tindakan satu arah.
  2. Pihak yang berargumentasi tidak perlu mencapai kesepakatan dengan pihak lawan.
  3. Argumentasi bertujuan menajdikan setiap pikiran dan tindakan kita adalah benar, dengan memberikan alasan-alasan logis terhadapnya.
  4. Pendapat yang diberikan dalam argumentasi harus selalu didukung oleh data-data ilmiah.
  5. Saling berargumentasi seringkali dilakukan untuk meyakinkan pihak ketiga.

Strategi

  1. Adanya teknik good-cop bad-copuntuk mencapai suatu hal yang diinginkan.
  2. Prinsip Tit for Tat.

Untuk beberapa hal terkait negosiasi seperti tersebut di atas, dapat dilihat dalam adegan-adegan berikut ini :

  • Merupakan tindakan dua arah | Dalam melakukan lobi, Nick Naylor selalu berkomunikasi dua arah dengan lawan negosiasinya.
  • Kedua belah pihak yang bertentangan, berusaha mencapai satu kesepakatan yang saling menguntungkan. | Joey mencoba mengajak ayahnya turut bergadang.
  • Negosiasi seringkali dilakukan tidak around the table. | Nick Naylor melakukan lobi dengan banyak orang di luar situasi formal, untuk menggolkan penolakan atas ide pelabelan rokok sebagai suatu jenis racun.
  • Film ini meyakini bahwa seorang negosiator diyakini merupakan bawaan alami yang hanya dapat diasah, bukan dilatih. | Nick Naylor mengatakannya pada Joey ketika berlibur bersama di Los Angeles.
  • Perlunya seorang negosiator memikirkan BATNA. | Nick Naylor mencari produser film Hollywood untuk mempromosikan rokok.

Sedangkan untuk argumentasi, konsep-konsep tersebut di atas dapat dilihat dalam bagian film di bawah ini :

  • Hanya merupakan tindakan satu arah. | Academy of Tobacco mempublikasikan klaim bahwa rokok tidak berbahaya. Sednagkan pihak Senator Finistirre menelurkan ide untuk menandai rokok sebagai satu jenis racun.
  • Pihak yang berargumentasi tidak perlu mencapai kesepakatan dengan pihak lawan. |  Pihak perusahaan rokok selalu bertentangan dengan pihak Senator Finistirre mengenai efek rokok bagi masyarakat.
  • Argumentasi bertujuan menajdikan setiap pikiran dan tindakan kita adalah benar, dengan memberikan alasan-alasan logis terhadapnya. | Joey mengerjakan tugas mengenai ”mengapa pemerintahan AS adalah yang terbaik di dunia”.
  • Pendapat yang diberikan dalam argumentasi harus selalu didukung oleh data-data ilmiah. | Academy of Tobbaco Studies mendasarkan klaimnya, bahwa rokok tidaklah berbahaya bagi kesehatan paru-paru, pada penelitian Erhardt Von Grupten Mundt.
  • Saling berargumentasi seringkali dilakukan untuk meyakinkan pihak ketiga. | Nick Naylor, dalam contoh yang diberikan pada anaknya, meyakinkan orang di sekitarnya untuk beranggapan bahwa cokelat bukanlah rasa es krim terenak. Kemudian juga, perusahaan rokok Nick Naylor dan pihak Senator Finistirre saling memberikan pernyataan publik mengenai efek rokok.

Selanjutnya, hal-hal mengenai teknik berstrategi pun juga ditampilkan dalam adegan-adegan film berikut :

  • Adanya teknik good-cop bad-copuntuk mencapai suatu hal yang diinginkan. | Taktik yang dilakukan oleh Senator Finistirre dalam hearing Senat guna mendapatkan hasil bahwa memang diperlukan tanda gambar khusus bagi rokok.
  • Prinsip Tit for Tat. | Sesuatu hal yang sudah dikatakan untuk menggertak, harus tetap dilakukan untuk menujukkan kesungguhan melakukan sesuatu. Terlihat pada adegan saat Nick Naylor mengatakan bahwa perusahaannya akan memasang iklan antirokok pada anak senilai lima puluh juta dolar, padahal sebelumnya hanya lima juta dolar.

Selain perbedaan arti serta penggunaan argumentasi, negosiasi, dan strategi, film ini juga menunjukkan beberapa konsep maupun hal-hal dasar dalam melakukan sebuah argumentasi, negosiasi, ataupun strategi. Hal-hal penting diperhatikan untuk menjadi seorang negosiator yang handal antara lain :

  • Memperhatikan prinsip-prinsip negosiasi seperti tertulis di atas.
  • Loyalty: saat bekerja dalam tim, maka seseorang harus selalu loyal dan satu pikiran dengan timnya serta selalu solid dan saling mempercayai.
  • Ketekunan : ketika melakukan negosiasi, seseorang harus melakukannya hingga tuntas, yaitu hingga tercapai kesepakatan.
  • Kerahasiaan : setiap negosiasi yang dilakukan, terutama yang dilakukan tidak secara formal, harus dirahasiakan prosesnya.

Selain itu, film ini juga memperkenalkan konsep subpoena yaitu tindakan memanggil atau mengklarifikasi sesuatu hal secara legal formal, yang dapat dilakukan melalui perngadilan ataupun lembaga formal lainnya. Secara umum, film Thank Your for Smoking ini menunjukkan sebuah pemikiran bahwa apapun yang dilakukan dalam interaksi sosial, terutama negosiasi, juga memiliki etika-etika tertentu. Etika-etika ini sebaiknya dipenuhi untuk mencapai sebuah keberhasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *