Keluarga

Cerita ini saya tulis dalam perjalanan dari Jakarta ke Solo. Dalam perjalanan pulang untuk merayakan Natal dan Tahun Baru sekaligus menikmati libur panjang, saya merealisasikan ide untuk menulis sesuatu tentang keluarga.

Sebelum memulai cerita, saya ingin menuliskan lirik awal soundtrack film seri Keluarga Cemara. Mendadak saja, lagu itu terngiang di kepala saya. Bagi generasi 90-an, tentu tahu betul bahwa Keluarga Cemara adalah (mungkin) satu dari dua film seri bertema “keluarga biasa” -lainnya adalah Si Doel Anak Sekolahan. Sedangkan film seri paling terkenal zaman itu, Tersanjung, memilih latar menengah ke atas. Berikut liriknya:

Harta yang paling berharga, adalah keluarga.
Istana yang paling indah, adalah… keluarga

Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga.
Mutiara tiada tara, adalah… keluarga.

Lagunya, bisa Anda temukan di sini.

Keluarga
Saya bingung mau menulis subjudul apa. Kalau tidak saya beri subjudul, agak tidak terlihat patahan cerita ini. Jadilah subjudul saya juga tuliskan: keluarga, karena memang itulah inti tulisan saya.

Sebenarnya sudah sejak minggu lalu saya ingin menulisnya. Namun, kesibukan menjelang tutup tahun menjadi penghalang; tidak banyak waktu tersedia untuk menulis. Apalagi saya sudah tidak pernah naik Kopaja atau Metromini (dan sambil menulis blog saat terkena macet) lagi seperti dulu.

Kembali ke laptop, saya menulis cerita ini karena saya shock melihat status dunia maya seorang teman. Statusnya memang tentang keluarganya yang meninggal -itu membuat saya shock. Yang membuat saya lebih shock, ia belum pernah bertemu dengan saudara iparnya yang meninggal ini, sejak berstatus sebagai adik ipar hingga meninggal.

Saya tidak bermaksud menghakimi keadaan yang dialami oleh teman saya itu -pun sepertinya ia akan membaca cerita ini. Namun, (dalam hitungan saya sekitar dua tahun) bagaimana mungkin ia belum pernah bertemu. Apakah ia tidak menyempatkan datang saat proses lamaran dan pernikahan adiknya?

Atau selama dua kali libur Lebaran atau akhir tahun, ia tidak juga sempat bertemu? Ataukah sekedar bertamu selama beberapa jam atau janjian bertemu di suatu tempat juga tidak sempat? Ketika kelahiran keponakannya, jugakah ia tidak sempat menjenguk dan bertemu sang adik ipar?

Apakah memang ada hal yang jauh mendesak dan lebih penting untuk dilakukan? Hingga akhirnya ia dipanggil Yang Kuasa, teman saya tadi tidak sekalipun pernah bertemu.

Keluarga
Mungkin saya bukan contoh terbaik yang mengutamakan keluarga, seperti di status FB saya ini. Saya sendiri sudah tidak lagi tinggal dengan orang tua dan saudara sejak saya SMA. Saya hanya bertemu mereka saat libur beberapa kali setahun.

Namun saya menetapkan hati bahwa dalam setahun, saya harus selalu pulang saat Lebaran (ya, saya Katolik tapi merayakan Lebaran juga karena tradisi Jawa), Natal, dan Paskah. Apabila ada long weekend, saya juga harus pulang. Belum lagi hal-hal seperti wisuda adik saya, pernikahan abang saya, atau pembaptisan keponakan saya.

Kalaupun saya tidak sempat pulang ke Solo, tempat keluarga inti saya berada, saya akan menyempatkan diri ke Bandung (yang dekat dengan Jakarta) di mana banyak saudara saya tinggal. Saat saya merasa sudah lama tidak bertemu para pakdhe dan sepupu yang merantau ke Kalimantan, maka saya juga sempatkan untuk hadir ke acara keluarga di sana meski hanya Sabtu-Minggu dengan Jumat dan Senin masuk kerja biasa.

Apakah saya capek? Ya.
Apakah harga tiket mahal? Ya.
Apakah jadinya saya tidak bisa kelayaban dengan teman di Jakarta? Ya.
Apakah saya harus bertengkar dengan klien karena saya harus cuti untuk acara keluarga? Ya.

Namun semua itu sepadan! Rasa capek tadi hilang ketika bertemu mereka, keluarga saya. Harga tiket mahal masih bisa dicari uangnya. Kelayaban dengan teman masih bisa kapan saja. Klien kemudian hilang pun, masih banyak perusahaan di luar sana membutuhkan bantuan.

Saya memiliki grup WA keluarga. Setiap pagi, grup ini yang akan pertama berbunyi mengucapkan selamat pagi. Setiap malam, grup ini yang secara teratur mengucapkan selamat beristirahat. Grup ini yang selalu membuat saya tersenyum dengan berbagai konten di dalamnya, juga sebuah grup di mana saya tidak perlu berpikir keras mau berucap apa supaya image saya terjaga.

Keluarga
Pada akhirnya, siapa yang akan membela Anda hingga titik darah terakhir? Keluarga.

Tanyalah siapa yang tetap mengunjungi orang-orang di dalam penjara? Keluarga -saat kawan pun mulai meninggalkan Anda yang terpuruk.

Siapa yang selalu mengingat Anda? Keluarga.

Bahkan siapa yang berkata bahwa Anda cantik, ganteng, atau pintar saat seluruh dunia mengatakan sebaliknya? Keluarga.

Tontonlah Downton Abbey dan lihat bagaimana Violet Crawley memiliki prinsip yang sangat ketat. Ia akan membenci dan tidak bisa memaafkan siapapun orang yang melanggar prinsip tersebut. Cucunya, Sybil, suatu ketika melakukan suatu hal yang melanggar prinsip tadi dan harus meninggalkan rumah karenanya. Violet memang marah besar dan terpukul. Namun, sebesar apapun dia coba membenci Sybil, ia tidak dapat melakukannya.

Meski kemudian Sybil pergi karena konsekuensi perbuatannya, Violet tetap mencintai dan sayang pada cucunya itu. Saat Sybil bertanya mengapa kali ini Violet masih bisa mencintai, ia menjawab: “Karena kamu memiliki sebuah kartu truf. Keluarga. Kamu adalah bagian dari keluarga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *