Awal yang Baru

“Awal yang Baru”

Begitu kata orang optimis saat kita harus mengakhiri sesuatu. Itulah di saat kita berbelok atau terdiam sejenak, tidak terus berjalan lurus. Mengakhiri hal lama dan memulai hal baru, menutup bab sebelumnya dan membuka bab berikut; begitulah orang berkata. Di bulan pertama dan kedua tahun 2017 ini, saya memutuskan tiga awal yang baru. Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya menutup masing-masing sebuah bab dari 3 (tiga) buku kehidupan saya.

Mencoba keluar dari zona nyaman  -atau mungkin setengah dipaksa keluar, saya memutuskan untuk membuka bab-bab baru kehidupan. Menantang, menenangkan, menyakitkan, dan berbagai perasaan lain masih berkecamuk dalam diri saya sampai saat menuliskan coretan ini.

Pekerjaan, Bisnis, dan Kuliah menjadi 3 (tiga) keputusan penting yang saya buat di Januari ini.

Pekerjaan

Buku pertama yang saya tutup-buka babnya adalah Buku Pekerjaan. Sselama ini, saya memilih berkarir di sebuah agensi / konsultan komunikasi. Orang pun berkata bahwa jalur karir saya di tempat ini adalah “menuju puncak”. Istilah itu digunakan bagi seseorang yang karirnya terus naik dengan waktu yang cepat, sekaligus merasa betah dengan pekerjaan yang dilakukan.

Sebagai informasi, seorang konsultan di tempat kerja seperti saya, tidak akan lebih dari 2 (dua) tahun bekerja di satu perusahaan. Para konsultan ini lebih memilih berpindah-pindah atau terpaksa berpindah. Sistem kenaikan level dan bentuk piramida kepegawaian memaksa seseorang mengalami up or out. Apabila dalam dua tahun tidak naik level, maka sebaiknya pindah saja karena biasanya akan mentok karirnya. Belum lagi, persoalan tekanan di tempat kerja, sering menjadi alasan para konsultan ini berpindah dengan cepat.

Mencoba Move On

Saya tumbuh bersama perusahaan ini. Meski ini bukan perusahaan pertama tempat saya bekerja, tapi inilah yang terlama. Saya masih ingat saat pertama bekerja dan harus stationed di kantor klien pada hari ketiga. Kantor klien di ujung utara Jakarta alias Tanjung Priok, sembari kuliah di pusat kemacetan Jakarta Selatan, mewarnai masa awal bekerja. Tentu banyak kenangan lain selama saya bekerja di sini. Yang paling menarik menurut saya, menyaksikan bagaimana perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai bertransformasi menjadi perusahaan global yang siap bersaing di tingkat internasional.

Banyak pengalaman juga telah saya dapatkan selama bekerja di kantor ini. Klien saya terbentang dari BUMN dan lembaga negara, perusahaan finansial dan farmasi, hingga online game yang saya saat itu belum pernah dengar namanya. Saya sangat bangga bekerja di perusahaan ini. Membantu banyak orang menyelesaikan masalahnya. Juga tentu, bagaimana saya banyak belajar tentang aspek bisnis para klien beserta sisi hukum, finansial, sosial, dan hal lain yang menyertainya.

Mengenang dan (Harus) Mengulang Keberhasilan

Long story short, di tengah rata-rata turn over perusahaan yang hanya 1,6 tahun, saya mampu bertahan lebih dari 5 (lima) tahun di sini. Bahkan saya mampu melaluinya dengan karir yang boleh dibilang cemerlang. Bahkan pada acara tahun baru kantor, hanya ada 9 (sembilan) orang yang memiliki masa kerja di atas 5 (lima) tahun tadi. Tentu selain faktor-faktor tadi, aspek lokasi dan suasana kantor juga membuat saya betah.

Maka pada akhirnya memutuskan berpindah, bisa dibilang, adalah akibat saya mulai merasa di zona nyaman saya. Memang, saya selalu belajar hal baru dengan memiliki klien yang silih berganti dan dinamis menghadapi permasalahan. Namun bagaimana saya menghadapinya, saya merasa biasa saja, tidak lagi tertantang, dan -tidak bermaksud sombong- dapat memberikan saran pemecahan masalah dengan cepat. Di sela-sela waktu bekerja, saya merasakan kehampaan. Di tengah acara klien yang saya datangi, saya merasakan keteraturan; tidak ada lagi ketidakteraturan yang membuat saya tertantang.

Agar saya mampu lebih berkembang, agar saya bisa memberikan dampak positif yang lebih banyak, agar saya mengembangkan perspektif saya; maka saya memutuskan mundur dari perusahaan saat ini. Keyakinan bahwa ini saatnya saya keluar dari zona nyaman, membuat saya menuju sebuah perusahaan lain yang saya harap mampu menantang saya mewujudkan 3 (tiga) tujuan tadi.

Bisnis

Jalan kedua yang tidak lagi saya tempuh dalam garis lurus adalah bisnis restoran dan florist milik saya dan 3 (tiga) teman SMA. Bisnis ini diawali oleh sebuah ide di tengah tahun 2012, dibuka Mei 2013, hingga mencatatkan 3 (tiga) cabang. Akhirnya pada Januari 2017, kami berempat memutuskan mengakhiri bisnis ini. Bermodal nama baik dan kepercayaan, juga melewati era perlambatan ekonomi telah kami lalui. Namun akhirnya di awal tahun yang banyak diwarnai gerimis ini, kami mengambil sebuah keputusan besar.

Mulai 1 Februari lalu, bisnis yang kami namakan MIX Diner & Florist, tidak akan ada lagi menjual miemirip, ayam keprek AK-47, ataupun mochi ice cream. Hal ini merupakan keputusan yang sangat berat bagi kami berempat. Naik turun bisnis, berganti menu beberapa kali, tantangan mencari investor telah mewarnai perjalanan kami.

Pastinya banyak faktor yang berpengaruh pada keputusan kami. Dulu sekali, kami pernah menutupnya selama 1 (satu) bulan untuk bersemedi mencari ide baru agar restoran kembali ramai. Namun kini, tampaknya kami memang harus diam sejenak di ujung jalan. Harapannya, kami mampu kembali berpikir dengan jernih. Dan yang pasti, kami harus berbelok karena tidak mungkin lagi berjalan lurus menabrak tembok.

Berat Mengakhiri

Bagi saya, hal terberat dalam menutup sebuah bab dalam Buku Bisnis ini adalah saat harus mengumumkannya kepada pegawai. Siang itu saat kami mengumumkannya, ada 35 pegawai di hadapan kami. Saya sendiri pernah mengalami rasanya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sehingga saya bisa membayangkan galaunya perasaan mereka pasca pengumuman penutupan restoran dan florist.

Saya tidak memiliki banyak kata-kata untuk Buku Bisnis ini seperti Buku Pekerjaan di atas. Saya tak lagi mampu berkata-kata. Apa yang saya rasakan dan alami dari buku ini, memberikan pengalaman dan pembelajaran luar biasa. Tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga pertemanan, kekeluargaan, simpati dan empati, hingga kerelaan dan pengorbanan. Ah, saya bisa kembali menangis jika harus melanjutkan coretan Buku Bisnis ini.

Mungkin saya akan menuliskan di lain waktu, apa-apa saja yang telah saya pelajari selama hampir 5 (tahun) mengandung, melahirkan, dan merawat MIX Diner & Florist. Pun juga akan saya tuliskan faktor-faktor kenapa kami memutuskan mengakhirinya. Tapi tidak sekarang, tidak saat saya melow dan curcol. Bisa-bisa, malah mengurangi aspek pembelajaran dalam tulisan saya dan terlalu banyak drama sinetron di dalamnya.

Kuliah

Buku Kuliah menjadi yang terakhir dalam coretan kali ini. Setelah menyelesaikan S2 saya di akhir 2013, saya merasa harus kembali belajar. Selain menambah ilmu, lagi-lagi hasrat pencarian akan perspektif lain dan tantangan untuk menjadi lebih baik, mendorong saya ingin mengambil studi lanjut.

Saat mengambil S2 dan menyelesaikannya, saya merasa sangat terbantu menemukan perspektif baru dalam mendukung pekerjaan dan bisnis saya. Begitu pula saat saya menyeleksi beberapa orang untuk pegawai restoran ataupun kantor. Latar belakang pendidikan ternyata berpengaruh terhadap cara pandang seseorang. Terlepas kualitas sekolah dan etos kerja si pencari kerja, perspektif yang dimiliki lulusan SMA, D3, S1, S2 sangat berbeda dalam hal penyelesaian masalah.

Kembali ke kasus saya, keinginan memiliki perspektif yang lebih luas serta (semoga) dapat menunjang urusan pekerjaan (dan bisnis), menjadi latar belakang utama. Saya ingin memperkaya isi kepala ini, supaya kepala ini tidak cupet.

Berhubung saya yakin beberapa tahun ke depan akan cukup sibuk dalam hal pekerjaan, bisnis, dan kehidupan pribadi, maka kali ini saya memutuskan mengambil S3 online. Melihat kurikulum dan cara belajarnya, saya yakin mampu mengambil ilmu dan menambah perspektif semaksimal mungkin. Toh, pada S3 face-to-face , mahasiswa dituntut untuk melakukan riset mandiri, sehingga sebenarnya sama saja. Pastinya, saya akan perlu komitmen dan dukungan luar biasa untuk selama 4 (empat) tahun ke depan. Semoga saya mampu menyelesaikan tantangan Buku Kuliah ini.

Epilog

Akhir kata, semoga semua keputusan besar saya tadi selalu diberkahi oleh Yang Di Atas agar saya makin membawa dampak positif ke masyarakat. Banyak hyperlink saya sertakan di atas, sebagai penegas bahwa 3 (tiga) keputusan saya di Januari 2017 ini benar-benar menjadi sebuah pergantian bab hidup yang signifikan. Tentu saya berharap bergantinya bab buku kehidupan, benar-benar dapat membuka cakrawala berpikir saya, serta menjadikan saya semakin arif dan berguna.

2 thoughts on “Awal yang Baru

  1. Asseeed, been reading your blog for a long time. Cuma mau bilang salut bangeet bisa juggle 3 hal di atas dan good luck untuk rencana2nya!
    Tiara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *