Kekurangan Orang Berpengetahuan

Saya menuliskan ini berdasar pengalaman menikmati long weekend di penghujung April. Pengalaman singkat yang tentunya tidak dapat digunakan sebagai menggeneralisasi keadaan. Tapi bisa juga, setidaknya untuk refleksi kita masing-masing.

Baiklah, mari kita mulai dengan pertanyaan. Berapa banyak di antara Anda yang bahagia ketika menjadi yang pertama memperoleh informasi? Sebahagia apa ketika banyak kabar burung di luar sana, Anda mendapatkan konfirmasi valid mengenai isu itu? Atau ketika Anda menunggu-nunggu sebuah kabar, kemudian datang juga? Bahkan saat Anda merasa menjadi orang paling memiliki informasi di sebuah kelompok, Anda akan menepuk dada dengan bangga?

Benar, maksud saya dengan kata “berpengetahuan” di judul adalah resourcefullness, Anda dipenuhi dengan informasi. Meminjam bahasa keren, informasi A1, alias pertama didapat, eksklusif, valid, dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kalau semua pertanyaan di atas tadi Anda jawab dengan “ya”, apa yang kemudian terjadi dengan diri Anda? Pasti… ya, pasti… mulut Anda akan gatal memberitahukannya ke orang lain. Jari Anda gatal untuk segera mengetik dan meneruskan informasi. Mata Anda mencari gambar mana yang bisa dibagi.

Itulah yang dimaksud dengan “kekurangan” pada judul tulisan ini. Saraf-saraf Anda langsung berpacu untuk bisa mengatakan ke orang lain: saya punya info ini, ini valid info A1. Anda ingin mengatakan kepada orang: udah jangan ngalor-ngidul, ini saya punya info yang benar.

Pertanyaannya: apakah informasi tadi harus dibagikan ke orang lain? Apakah ketika informasi tadi dibagikan, meski benar, membawa kebaikan untuk semua orang? Apakah memang lebih baik menyampaikannya ke semua orang, dibanding kepada melalui kanal-kanal yang bisa menindaklanjuti informasi tadi? Juga apakah Anda super yakin informasi tadi super benar didukung oleh bukti-bukti yang super valid?

Kalau ada satu saja yang jawabannya “tidak”, kenapa kita harus membagikan informasi tadi ke khalayak? Kenapa kita harus memicu spekulasi, pertanyaan, atau perdebatan lebih lanjut? Untuk menggali kebenaran? Bukan! Untuk memuaskan diri Anda ketika orang lain tahu kalau Anda memiliki banyak informasi.

Kata pepatah: orang yang paling berkuasa adalah mereka yang menguasai informasi. Itu memang benar. Tapi ada juga pepatah: sampaikan hal sesuai dengan kebenaran, tapi tidak semua kebenaran perlu disampaikan.

Anda tetap bisa berkuasa kok -kalau itu memang hasrat Anda- tanpa perlu mengumbar semua kebenaran ke semua orang. Pilih kanal yang tepat, lihat waktu penyampaiannya, timbang manfaat informasi tadi disampaikan, barulah Anda bisa mengatakan kebenaran yang disimpan. Itupun kalau informasi tadi perlu atau boleh disampaikan.

Tapi kalau memang hasrat Anda adalah menepuk dada saat orang lain memuji pengetahuan Anda atau informasi yang Anda miliki… ya itu sudah lain urusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *