A Journey to Heaven: Silolona & Raja Ampat

Di Minggu pagi ketika saya menonton sebuah acara bertemakan liburan dan petualangan, saya jadi teringat ada salah satu pengalaman perjalanan di Indonesia yang belum saya tulis. Pengalaman itu adalah saat 2012 lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Raja Ampat, sebuah surga di bumi Indonesia, serta menaiki dan tinggal di dalam Silolona, sebuah kapal phinisi yang sangat indah.

Kapal Phinisi Silolona – Silolona Sojourns

Perjalanan saya pada 2012 selama lima hari itu semuanya gratis! Ya, saya sangat beruntung tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk menikmati permata alam timur Indonesia. Saat itu, saya pergi bersama sembilan wartawan yang dijamu oleh salah satu klien saya, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), dalam rangka mengenalkan nilai maritim, sekaligus untuk mendapatkan update perkembangan pembangunan pelabuhan di Indonesia timur.

Sedikit bocoran di awal, Silolona dikenal sebagai sebuah kapal phinisi mewah dan salah satu yang termahal di Indonesia (dan Asia Tenggara). Sang pemilik sendiri memiliki dua jenis kapal, Silolona dan Si Datu Bua. Silolona mampu menampung lebih banyak kru dan tamu dan (lagi-lagi konon) karena tarifnya yang mahal, tidak semua orang dapat naik ke kapal ini. Selain harga dan daftar tunggu, referral sering dipakai untuk pengguna baru kapal ini.

Kapal Phinisi Silolona – Silolona Sojourns

Anda sebenarnya dapat memesan kapal ini dari dan ke mana saja. Meski kapal phinisi yang terbuat dari kayu, kekuatan dan kelincahan kapal serta keahlian kru, sangat sempurna. Seperti sejarah mencatat kapal phinisi Indonesia yang mengarungi lautan, Silolona (menurut cerita sang pemilik) pernah menempuh jarak Indonesia-Amerika Serikat untuk sebuah eksibisi. Perjalanan saya pada 2012 tentu tidak sejauh itu. Silolona sudah menunggu kami di dermaga Sorong untuk mengajak kami berkeliling Raja Ampat.

Dari Jakarta ke Sorong? Kami menaiki Express Air yang (kala itu) merupakan satu-satunya maskapai dengan penerbangan langsung Jakarta-Sorong dan menempuh lima jam perjalanan. Garuda? Bahkan maskapai nasional ini tidak menerbangi Sorong. Sedangkan maskapai nasional lain, biasanya memerlukan transit di Makassar maupun Ambon. Express Air sendiri adalah maskapai full-service meski dengan pesawat dan interior sedikit jadul, ibarat Anda menaiki Garuda di tahun 2000-an awal.

Kembali ke Silolona, pemilik kapal ini adalah seorang wanita asal Amerika namun telah jatuh cinta pada Indonesia sejak tiga puluh tahun lalu. Ia fasih berbahasa Indonesia, paham budaya-budaya Kalimantan, Bali, dan Papua. Ibu Patti Seery, nama pemilik kapal ini, bahkan memiliki gelar adat Papua (yang sangat berguna ketika kami menemui suku pedalaman nanti). Kru kapal sangat senang berpartisipasi dalam operasional kapal ini karena mereka bisa mengunjungi tempat-tempat eksoktik sambil menyalurkan kesenangan mereka terhadap laut (selain gaji dan tips besar yang didapat dari para tamu).

Oh ya, Silolona dibangun menggunakan kayu asli dan dengan upacara adat Kalimantan. Memiliki bentuk, polesan, dan pahatan asli phinisi Indonesia, kapal ini dilengkapi dengan peralatan navigasi dan liburan canggih. Satu hal saja yang tidak akan Anda temukan, yakni layanan internet dan wi-fi. Tentunya, Anda ingin merasakan 100% liburan tanpa gangguan gadget dan hiruk-pikuk dunia luar kan?!

Raja Ampat

Mengelilingi Raja Ampat selama lima hari, tentunya belum semua lokasi kami datangi. Kami menyusuri jalur selatan dan melewatkan Wayag yang menjadi spot foto kekinian bagi mereka yang berkunjung ke Raja Ampat. Raja Ampat sendiri merupakan kepulauan dengan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian kepala burung Pulau Papua dan Wayag berada di sebelah utara.

Selama lima hari, banyak sekali kegiatan dan lokasi yang kami datangi. Dari water sports (yang mana saya selalu gagal berdiri), snorkeling, dan diving (pertama saya), hingga mengunjugi kuburan kuno, situs suci, hingga perkampungan adat. Bahkan saya menyempatkan diri dipijat di pinggir pantai saat matahari terbenam. Seandainya pada saat itu saya memiliki Instagram, tentu foto pijat eksotik tadi bisa menjadi foto ala-ala yang kekinian.

Ketika kami memasuki daerah yang jarang dikunjungi, tentu masyarakatnya pun tidak awam bertemu dengan orang luar. Karena menganggap kami asing, ketika kapal kami melepaskan jangkar, beberapa penduduk lokal datang dengan membawa senjata. Terlebih ternyata, beberapa bulan sebelumnya, ada sekelompok turis yang mendatangi pemakaman adat mereka dan mengambil beberapa tengkorak. Untung saja, seperti saya tuliskan di awal, si Ibu pemilik kapal memiliki gelar adat yang ketika diucapkan, para penduduk lokal ini mengetahui maksudnya dan menjadi kalem, bahkan ikut makan siang bersama kami.

Tentunya keindahan Raja Ampat tidak perlu diragukan lagi. Langit biru, lautan jernih dengan keindahan bawah air, tebing dan bukit yang terpahat alam, hingga bukit dan hutan tempat cendrawasih bersarang. Baru ketika saya ke Raja Ampat ini, saya tersadar bahwa cendrawasih adalah seekor burung kecil dengan surai ekor panjang. Sebelumnya di bayangan saya, cendrawasih adalah burung yang ukurannya sebesar merak.

Satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan dari kunjungan saya ke Raja Ampat adalah pemandangan malam seperti di film Life of Pi. Ketika itu, kami mengadakan makan malam di sebuah pantai dari sebuah pulau yang hanya muncul ketika siang dan lama-kelamaan tenggelam saat malam. Setelah selesai makan, kami semua kembali ke kapal. Saya sebagai penanggungjawab seluruh kegiatan ini tentu menjadi yang terakhir kembali bersama beberapa kru sweeper. Di tengah laut, para kru menawari saya untuk berhenti sejenak dan mematikan lampu. Ketika itu saya pikir, saya diajak melihat gugusan bintang yang memang cantik dan terang terlihat. Saya kemudian diminta memegang tongkat dayung dan memutarnya di air secara perlahan. Ketika saya melakukannya…. saya tidak akan lupa pemandangan hijau plankton-plankton bersinar di tengah laut yang gelap, benar-benar seperti yang ada di film Life of Pi tadi.

Ilustrasi Glowing Plankton (Film Life of Pi) – wired.com

Dua hal yang belum saya lihat ke Raja Ampat dan saya tekadkan untuk dapat melihatnya: gugusan punuk-punuk Wayag dan pengalaman memandang Manta Ray dari atas bukit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *