Connecting the Dots

Kalau saya ditanya apa yang membuat saya berhasil di bidang profesi saya, maka jawabannya adalah connecting the dots (CTD) alias kemampuan menghubungkan apa/siapa secara tepat kepada apa/siapa yang diperlukan. Menurut saya dan banyak orang, kemampuan menghubungkan titik-titik ini sering lebih memberikan impact daripada kemampuan diri kita sendiri. Terlebih bagi saya yang baru enam tahunan berkelana di dunia kerja.

Source: http://juliebrownbd.com/wp-content/uploads/2017/03/Connect-the-dots.png

CTD sendiri bukan sekedar menghubungkan, seperti sebut saya di atas, namun juga menjaga titik tersebut tetap menjadi penghubung. Setidaknya masih gampang apabila sebuah titik menghubungkan dua tali dan Anda hanya memiliki/menjadi satu titik. Tapi bayangkan kalau Anda menjadi banyak titik dari banyak tali, pun per titik tidak hanya menjadi penghubung dua tali. Belum lagi apabila tali-tali tadi bersimpul dan tidak hanya terkoneksi di satu titik.

Ya, benar! Kemampuan menjadi CTD tadi bisa lebih rumit dan memusingkan daripada memiliki kemampuan menjadi seutas tali (bersimpul). Apa yang kemudian menjadikan seseorang berhasil menjadi CTD yang efektif dan efisien? -benar, harus keduanya, efektif dam efisien. Menurut saya, ada tiga hal: jejaring, konsistensi, dan persistensi.

Jejaring adalah kunci utama bisa menjadi connector yang baik. Menjadi connector tidak perlu sampai benar-benar mengenal baik seseorang. Selama Anda berilmu alias tahu siapa yang bisa atau perlu dihubungi, Anda sudah menjadi connector handal. Setelah Anda tahu, bisa kok melalui jalur formal terlebih dahulu seandainya memang tidak akrab.

Konsistensi menjadi kunci utama lainnya. Menjadi connector, Anda tidak boleh hit and run, sudah menghubungkan kemudian hilang saat mereka sudah terhubung. CTD berarti juga harus menjaga titik hubung tadi tetap kuat mengeratkan tali-tali yang tersambung. Apabila Anda hit and run, tentu titik tadi akan melemah tidak dirawat dan akhirnya tali-tali kembali putus. Satu hubungan putus mungkin tak apa, lebih dari itu? Tali-tali itu tak akan lagi mau menyambung atau disambungkan oleh Anda.

Terakhir adalah persistensi, yakni kegigihan Anda dalam menyambungkan tali dan mempertahankannya. Mungkin Anda berniat sangat baik untuk menjadi titik hubung bagi semua orang dan seerat mungkin menghubungkan. Akan tetapi, kalau Anda tidak aktif mencari tali yang terlepas atau gigih memegangi mereka, pastinya sulit menjadi sebuah titik hubung yang kredibel.

Sebagai penutup, terdapat sebuah adagium bahwa orang yang paling berkuasa adalah mereka yang memiliki informasi. Tapi pagi saya dan dunia saya, informasi tadi adalah “informasi untuk dengan efektif dan efisien menghubungkan apa/siapa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *