Memilih Universitas Dalam Negeri

Beberapa orang men-japri dan menanyakan alasan saya memilih S3 di dalam negeri. Seperti enam tahun lalu saat saya memilih S2 di dalam negeri, banyak orang juga sangat curious mengenai alasan saya. Bukannya sombong, menurut mereka (dan sebenarnya), saya berkualifikasi untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri.

Apakah saya tidak berpikir untuk kuliah ke luar negeri? Saya memikirkannya! Saya mengenal banyak orang lulusan luar negeri dan kagum mengenai cara berpikir mereka yang berbeda dengan kebanyakan lulusan dalam negeri. Terutama lulusan universitas-universitas Amerika Serikat (AS). Cara berpikir mereka sangat inovatif, future and long-term approach, dengan tetap praktikal dan berbasis industri. Tentu saja saya ingin memiliki cara pandang seperti mereka. Akan tetapi, saya memilih studi di dalam negeri karena beberapa alasan.

S1 di Gadjah Mada
Sebelum masuk ke alasan saya memilih S2 dan S3 di dalam negeri, saya ingin flash back sebentar ke tahun 2007 saat akan lulus sekolah menengah atas (SMA). Pada saat itu, saya memiliki dua pilihan studi ke luar negeri (dengan kesempatan beasiswa) dan tiga universitas dalam negeri.

Pilihan studi ke luar negeri pertama, sudah tertutup untuk saya karena guru bimbingan konseling (BK) memilih merekomendasikan seorang teman lain (yang akhirnya tidak mengambil), dibandingkan saya. Pilihan kedua juga tidak saya ambil karena tidak mendapat beasiswa dan pilihan loan nampaknya bukan menjadi pilihan yang menguntungkan.

Akhirnya, ketika memilih satu dari tiga universitas dalam negeri, saya merasa (dan ternyata) bisa unleash potensi saya, mendapatkan teman dan jejaring, bahkan beasiswa hingga studi selesai. Tulisan singkat Robin Hartanto, kecuali bagian bersinggungan dengan teman dari berbagai penjuru Indonesia, cukup menggambarkan mengapa saya (benar telah) memilih studi S1 di dalam negeri.

S2 di Trisakti
Pasca lulus dan sudah bekerja, hasrat saya untuk melanjutkan studi pun muncul. Selain memang karena ego dan ingin menantang diri sendiri, saya juga merasa membutuhkan ilmu lebih dalam dunia pekerjaan saya. Saya pun memilih S2 part-time di dalam negeri, di Universitas Trisakti.

Saya sebutkan tadi mengenai ego, yakni keinginan saya untuk mau selalu “lebih”, kemauan tetap memiliki masa kerja, sembari mendapatkan ilmu dan gelar S2, serta memilih lokasi yang dekat dengan tempat kerja. Menantang diri sendiri, berarti saya masih tidak puas terhadap diri sendiri dan tahu benar bahwa saya mampu melakukan hal lebih banyak dibanding hanya rutinitas kerja.

Kembali ke keputusan saya mengambil S2 di dalam negeri, perlu dicatat kondisi pada 2011 itu. Saat itu belum ada jor-joran beasiswa ditawarkan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beasiswa ke luar negeri non-dosen pun masih sangat terbatas dari lembaga donor besar, seperti Fullbright, Chevening, atau AusAid.

Catatan kedua, saya bukan pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai badan usaha milik negara (BUMN). Maka apabila mengambil full-time kuliah (baik di dalam maupun luar negeri), masa studi tidak akan diperhitungkan sebagai masa kerja. Bahkan saya harus mengundurkan diri dari perusahaan, plus tentu akan ada gap year kerja juga di CV nantinya. Pengalaman dan pendidikan, keduanya penting bagi saya. Keduanya, menurut saya, bukan sesuatu yang harus dipilih salah satu, namun harus bisa dijalani bersamaan.

Ketiga, toh dengan mengambil S2 part-time di Trisakti, saya mendapatkan ilmu yang sangat relevan dengan pekerjaan saya (sebelumnya saya memang melakukan riset tentang berbagai program studi/universitas), juga jejaring yang saya perlukan. Mengenai cara berpikir yang saya jabarkan di atas, saya (pada saat itu membayangkan akan) mendapatkannya karena dengan mengambil kelas part-time, kita akan berada satu kelompok dengan para profesional yang sudah malang melintang di dunia kerja sehingga bisa memberikan insight yang diinginkan.

Terakhir, kali ini bukan catatan melainkan opini saya, idealisme dalam diri saya entah kenapa, muncul pada saat itu. Apabila kita melakukan studi di luar negeri, maka hasil karya kita, baik tulisan maupun tesis, akan menjadi produk universitas luar negeri tersebut. Padahal, salah satu poin penting perankingan universitas secara global adalah karya ilmiah yang dihasilkan oleh mahasiswanya. Apabila semua orang, terutama mereka yang mumpuni, melanjutkan studi ke luar negeri, bagaimana mungkin universitas-universitas di dalam negeri dapat memperbaiki mutu karya ilmiah mahasiswanya?

Sehingga menurut saya, keputusan berkuliah S2 di dalam negeri adalah sesuatu sangat worth it untuk diambil.

S3 di Bina Nusantara
Saat memilih kuliah di dalam negeri, saya sangat mempertimbangkan akreditasi kampus serta pilihan studi yang diinginkan. Memang masih jauh ranking universitas-universitas di dalam negeri apabila dibandingkan dengan yang ada di luar negeri. Namun setidaknya, akreditasi yang BAN-PT lakukan, terbuka untuk publik juga, sebisa dan sekomprehensif mungkin menggambarkan kualitas kompetitif di dalam negeri, sekaligus menjadi input yang valid.

Sama seperti pilihan S1 dan S2, saya mempertimbangkan persoalan tipe dan waktu kuliah, lokasi, jejaring, serta hal terkait dengan publikasi karya ilmiah. Berhubung saya bisa kerja dan kuliah selama tiga tahun, tanpa perlu memilih meninggalkan salah satu, maka Universitas Bina Nusantara (Binus) menjadi pilihan. Faktor waktu kuliah (teori tahun pertama) yang pas serta lokasi dekat dengan kantor dan rumah, membuat saya memilih Binus.

Khusus untuk karya ilmiah, saya ingin meneliti tentang competition analytics, dalam hubungannya dengan game theory antar perusahaan di sebuah grup industri. Saya sudah pernah mengajukan penelitian ini ke dua universitas di luar negeri dan dijawab bahwa penelitian tersebut sudah pernah dilakukan di sana. Berhubung penelitian S3 harus menghasilkan semua ilmu baru, maka penelitian diminta diperbaiki, cukup pada penajaman geografis penelitiannya. Kemudian muncul di kepala saya: kalau saya meneliti tentang Indonesia, mengapa saya tidak men-trade-mark-nya sebagai hasil tesis sebuah universitas di Indonesia. Begitulah.

Epilog
Pada intinya, pendidikan itu seperti sebuah kebutuhan. Pilihan kita ada pada “apa yang dimau” dan “apa yang dibutuhkan”. Bagi saya, “yang dibutuhkan” selalu menjadi prioritas dibandingkan dengan “yang dimau”. Bukannya mengerdilkan cita-cita atau harapan, namun bagi saya, segala sesuatunya sudah cukup saat “yang dibutuhkan” tadi terpenuhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *