Hal-Hal Yang Mengesalkan

Tulisan ini sebenarnya merangkum pengalaman mengesalkan yang saya rasakan sebulan terakhir. Mengesalkan, karena menurut saya, hal tersebut tidak perlu terjadi, tetapi tetap semaja dengan sengaja dilakukan dan pada akhirnya berujung pada sebuah ketidakbergunaan bagi semua orang.

Konter Kosong
Pernahkah Anda datang ke sebuah bank atau kantor yang memiliki banyak konter teller / customer service. Dari banyaknya konter, kemudian hanya terisi dua atau tiga orang. Tidak hanya pada jam atau hari tertentu, ketidakterisian konter ini selalu terjadi. Jadi apa gunanya membangun banyak konter kalau kemudian tidak diisi petugas yang berfungsi memudahkan hidup para customer.

Driver Ojol Bertanya “Posisi di Mana”
Di dunia yang serba canggih ini, terdapat aplikasi bernama ojek online (ojol) dan maps. Secara akurat, terutama di Jakarta, keduanya bisa dan secara otomatis menunjukkan posisi di mana kita berada. Aplikasi ojol pun menuliskan¬† dan menunjukkan dengan jelas posisi jemput pemesan. Sehingga sangat mengesalkan apabila driver bertanya pada pemesan saat mau menjemput “posisi di mana?” Lihat saja di aplikasi karena sudah ada alamat lengkap di sana, atau maps¬†yang sudah dengan jelas menunjukkan.

Anak Baru Kompleks
Alkisah di kompleks rumah saya, terdapat sebuah rumah tua yang kemudian diruntuhkan, dibelah dua tanahnya, dibangun, dan dijual. Salah satu rumah tadi sudah jadi. Yang membuat saya kesal adalah rumah baru nan indah dan besar tadi, tidak memiliki taman sama sekali..!! Di saat keasrian kompleks saya menjadi daya tarik orang tinggal di sini, pemilik rumah baru ini merusaknya. Kemudian pagi ini dengan angkuhnya ia -ternyata pejabat berseragam paling top di Jakarta membeli untum anaknya- menutup jalan karena sedang melakukan lamaran si anak tadi. Dengan angkuhnya juga menggerakkan aparat, melarang ojol masuk ke dalam kompleks selama acara berlangsung. Barulah saat para warga protes, hanya setengah jalan yang ditutup.

Pidato Panjang
Kekesalan lain adalah saat Anda sudah diberi petunjuk untuk pidato maksimal selama 7 (tujuh) menit, namun justru menghabiskan waktu 20 (dua puluh) menit ketika melakukannya. Tahukah Anda, petunjuk tadi adalah untuk kebaikan bersama?! Tahukah Anda jika orang hanya mampu fokus mendengar dan meresapi sebuah pidato atau ceramah maksimal 10-15 menit?! Juga tahukah Anda bahwa bertele-tele bicara adalah tanda kebodohan, tidak dapat meringkas suatu hal rumit menjadi mudah.

Okupasi Trotoar
Terakhir, sangat mengesalkan saat trotoar yang sudah dilebarkan dan dirapikan, dipakai oleh pedagang kaki lima (PKL) atau parkir. PKL tetap tidak seharusnya berjualan di trotoar. Jikalau mau dibina, mundurkan mereka ke belakang trotoar, belikan mereka lapangan atau lahan jualan lain kemudian persilakan berjualan di sana. Urusan parkir, baik itu di pertokoan, sekolah, tempat ibadah, rumah sakit; bodo amat..!! Setiap bangunan wajib memiliki tempat parkir dan seharusnya menjadi syarat utama AMDAL, alias analisis mengenai dampak lingkungan, saat bangunan itu berdiri -ya kecuali ada yang amis dalam pengurusannya.

Epilog
Begitulah curhatan saya yang merasa kesal. Bagaimana dengan Anda? Apakah sama kekesalannya?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *