Menjadi Seorang Pemimpin

Bisa dibilang, tulisan berikut ini adalah hasil pengamatan saya selama 2018 tentang ciri atau bagaimana kita seharusnya menjadi seorang pemimpin. Aslinya, tulisan ini sepotong-sepotong saya post di LinkedIn saya. Tiba-tiba saja terpikir untuk menyatukannya di sini ketika saya melihat kembali pengalaman profesional saya setahun terakhir. Beberapa bagian saya tambahkan kalimat agar konteksnya mudah dimengerti. Enjoy the readings! Berhubung saya anak Jaksel, boleh ya tulisannya bercampur antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Set Your Standard

Pertama-tama, apa sih itu pemimpin? Apakah Anda siap? Tiga poin berikut mungkin bisa menjadi refleksi, apakah Anda siap menjadi seorang pemimpin?

  • Being a leader also means that you are ready to be blamed if something goes wrong but your team is the one saluted if it goes well.
  • Being professional also means you keep doing your job when others don’t.
  • I think one of the hardest parts of being a leader is to decide, especially when the state has limited amount of information or data and is constrained by time limit.

Actively Find Out

Menjadi pemimpin, berarti Anda mau terus bergerak ke depan, mau terus belajar. Potongan berita berikut, sejalan dengan pengalaman saya, tentang bagaimana seorang pemimpin harus mau aktif mencari tahu.

“Saya kira tidak. Bahan bisa begitu mudah didapat dari internet. Juga tak ada kendala bahasa kan? Apalagi ini Anda berbicara dengan pemain Anda sendiri yang mempunyai prestasi kelas dunia.”

Dalam pengalaman saya, memang masih banyak jurnalis Indonesia yang harus “disuapi”. Mandiri mencari background, membaca website atau dokumen yang tersedia secara online, sampai proaktif mendaftar acara-acara besar; hanya bisa diharapkan dari jurnalis senior. Jurnalis muda? Hanya hitungan jari yang mau (meskipun mampu) melakukannya. Maka dalam pengalaman saya juga, hanya jurnalis muda yang mau “go beyond disuapi”-lah yang karir jurnalismenya bergerak progresif.

https://olahraga.kompas.com/read/2018/07/05/21550658/pejabat-bwf-kecewa-dalam-konferensi-pers-indonesia-open

Persistence

Selain itu, menjadi pemimpin juga harus terus mau bertahan, meski dalam kondisi sulit sekalipun. Seperti saat saya kala itu menyediakan waktu mewawancarai para kandidat yang melamar ke perusahaan. Dalam satu hari, terjadwal dua atau tiga kandidat. Ketika wawancara, ada dua pertanyaan standar yang selalu saya tanyakan. Sangat mengagetkan saat jawabannya sebagian besar juga “standar”.

S: Ini perusahaanmu sebelumnya, maaf sekali saya tidak familiar dengan nama PT-nya, bergerak di bidang apa?

K: Itu dikenalnya sebagai XXX Pak, perusahaan start-up di bidang YYY.

S: Oh, kenapa keluar? Kan challenging kerja di start-up, banyak yang bisa dilakukan.

K: Ya namanya start-up Pak, udah tutup, makanya saya cari opportunity baru.

 

Kandidat dari start-up yang berguguran tadi cukup banyak, sekitar 40% dari semua pelamar. Lampu kuning untuk start-up enthusiast? Baik yang sedang menjalankan atau mau memulai? Atau (baik pelamar tadi ataupun pendiri start-up) masih kurang persistence dalam berjuang?

Embrace Yourself

Perlu dicatat juga, seorang pemimpin pasti bangga atas apa yang telah dan ia lakukan. Hal ini karena tentu, seorang pemimpin harus mau dan mampu bertanggung jawab dengan pilihan yang sejak awal ia buat. Tidak seperti salah satu “keanehan” yang saya lihat di LinkedIn (IG, Twitter, dan terutama FB juga), yakni saat seorang pegawai sudah tak lagi bekerja di perusahaan X tapi tidak memperbarui profilnya karena perusahaan lama dia alias X tadi lebih “menjual” dibanding perusahaan baru tempat ia bekerja. Apalagi saat pegawai ini mengundurkan diri dari perusahaan X karena tidak betah, merasa tidak dihargai, atau merasa kulturnya tidak sesuai dengan dirinya. LinkedIn dan semua social media pegawai tadi update lho konten dan komennya. Apa iya sang pegawai bisa sampai tidak sempat mengubah profile section. Apakah Anda tidak bangga dengan kondisi saat ini?

Know Your Place

Kita pun perlu mengetahui di mana kita berada, dalam artian apa yang bisa, apa yang harus, dan sampai batas mana kita bisa melakukan sesuatu. Menjadi pemimpin juga tidak berarti harus melakukan semuanya. Kita harus mampu membagi tugas, mendelegasikan, serta membentuk sebuah tim yang menghasilkan harmoni kerja tim.

Talking about Surabaya bombing crisis communication handling this week, especially in matter of spokespeople, I think it was an example of a good communication management. The President talked about national policy to counter terrorism, the National Police Chief brought (general) police strategy and on-ground actions, then Provincial Police Communication Head regularly updated the data of the event. Finally, Surabaya Mayor enlightened us with local civil policies following up this horrible event. Every spokesperson had his/her own key message and did not overlap each other.

Follower or Leader?

Terakhir, menjadi pemimpin berarti memang benar-benar memimpin, tidak hanya menjadi bebek yang mengikuti arahan ke sana kemari tanpa inisiatif, bahkan tanpa tahu harus/akan ke mana. Saya pernah berkesempatan menjadi juri di sebuah kompetisi bisnis bagi mahasiswa. Dari tujuh finalis, lima di antaranya merencanakan online-based intermediaries, baik di bisnis kecantikan, layanan keagamaan, sampai kebutuhan sehari-hari. Semalaman setelah itu saya merenung: mereka pasti terinspirasi oleh kesuksesan marketplace atau taksi / ojek online -dan itu bagus, hanya saja mengapa sedikit sekali yang berpikir menjadi penjual / pemilik barang dan jasanya. Latar belakang yang dipaparkan para finalis online-based intermediaries ini sama: Uber tidak punya mobil, AirBnB tidak punya hotel, Go-Food tidak punya restoran. Cuma kalau semuanya hanya mengikuti, membuat Uber, AirBnB, atau Go-Food (bahkan tanpa mematangkan model bisnis), kemudian siapa yang mulai membuat mobil, kamar hotel, atau restorannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *