Entering Startup Life: Fleksibilitas & Idealisme

Pertama-tama tentunya saya ingin mengenalkan perusahaan saya sekarang: DanaLaut.id. Meskipun saya belum melewati masa probation 3 (tiga) bulan, namun tak apalah, saya ingin membagikan apa yang saya rasakan. Saya ingin menuliskan pengalaman baru tentang bagaimana bekerja untuk sebuah perusahaan startup teknologi finansial (fintech). Perusahaan besutan dua teman saya ini menjadi pelabuhan hati setelah hanya 9 (sembilan) bulan saya bertahan di perusahaan sebelumnya, meskipun saya menyukai bekerja di sana. Beberapa, bahkan banyak, hal tentu saya rasakan  berbeda saat bekerja di antara keduanya.

Sebenarnya tak terasa juga, sepanjang 2019, saya belum menuliskan apapun di sini. Sepertinya ini sebagai efek beralihnya pilihan saya untuk lebih menulis disertasi dibandingkan menulis isian blog -dan tentu saja harus begitu! Jika saya ingin disertasi cepat selesai. Berhubung draft proposal disertasi saya sudah masuk ke tangan dosen dan tinggal menunggu feedback, maka saya minggu ini memiliki sedikit waktu luang untuk menulis. Voila! Silakan menikmati.

DanaLaut
Saya tuliskan di awal tadi, ini adalah sebuah startup alias perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial, khususnya peer to peer lending (P2P lending). DanaLaut sendiri merupakan satu dari sedikit perusahaan P2P lending yang berfokus pada sektor ekonomi kelautan di Indonesia, serta telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2018. Tahun lalu, DanaLaut mulai menyalurkan pembiayaan modal usahanya di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Pada tahun 2019 ini, DanaLaut memiliki target untuk menyalurkan pembiayaan ke lima sektor bidang kelautan, yakni pertanian garam, budidaya rumput laut, usaha turunan produk laut, tambak, dan pusat pengolahan; dengan wilayah tersebar dari pantai utara Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara.

Is it so different?
Langsung saja, perbedaan pertama yang jelas saya rasakan adalah lokasi kerja. Hal ini berimbas pada moda transportasi untuk berangkat / pulang kerja. Saya hampir selalu menggunakan ojek online ketika dulu pada perusahaan sebelumnya yang berlokasi di area Kuningan, Jakarta. Kadang-kadang apabila hujan, barulah saya menggunakan Bus Transjakarta. Berangkat dan pulang pasti selalu di jam puncak kemacetan karena memang perusahaan saya dulu menggunakan sistem absen sidik jari -meski setelah absen, Anda bisa pergi ke mana saja.

Sedangkan di startup sekarang ini, perusahaan memiliki kantor operasional di area Summarecon Bekasi serta co-working space di area Kuningan -tak jauh dari lokasi perusahaan lama. Alhasil, ketika saya ke Bekasi, maka kereta commuterline menjadi andalan. Terlebih jarak dari rumah ke stasiun terdekat (Pasar Minggu) serta stasiun Bekasi ke lokasi kantor, sama-sama hanya sekitar 3 (tiga) menit berkendara motor. Jam berangkat dan pulang pun bebas karena tidak ada absen sidik jari -yang terpenting pekerjaan selesai- sehingga saya bisa memilih jadwal yang kira-kira lebih tidak sesak. Pun menggunakan ojek online menuju / dari stasiun terdekat, saya dikenai harga jam normal, tidak semahal saat jam puncak.

Yang kedua, tim startup ini tergolong kecil, hanya terdapat belasan pegawai, itupun termasuk kedua founders teman saya tadi. Total pegawai bahkan tidak melebihi jumlah tim marcomm saya di perusahaan lama. Adapun tim saya, hanya ada 1 (satu) orang fresh graduate dan 1 (satu) mahasiswa yang sedang skripsi, namun keduanya berstatus full-time. Memang jauh berbeda, skala pekerjaan tentu berbeda, adjustment terhadap melakukan ini itu pun harus disesuaikan. Sangat amat beruntung, kedua anggota tim saya ini tekun, mau dan cepat belajar, seringkali memberikan kualitas yang melebihi ekspektasi saya. Tentu saja harus banyak diajari melakukan ini itu karena mereka baru saja mengenal dunia kerja, namun hasilnya sangat tidak mengecewakan.

Ketiga, saya akui secara deskripsi pekerjaan, startup ini sangat dinamis. Di awal masuk, target performa saya adalah brand awareness and reputation. Bergerak memasuki bulan kedua, bergeser sedikit menjadi aktivasi. Di bulan ketiga, justru pencarian retail lenders akibat perubahan regulasi. Untungnya -saya kan orang Jawa, jadi selalu ada sisi positif dari semuanya, target-target baru ini masih dalam lingkup keahlian saya. Di masa lalu, saya sempat memiliki usaha rintisan sendiri juga. Sehingga daya upaya cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis (aturan, kondisi finansial, teknologi, dsb.) sudah selayaknya tidak mengagetkan orang yang berkecimpung di dalamnya. Tentu sangat berbeda dengan perusahaan sebelumnya yang memiliki sedikit ombak perubahan, bahwa segala sesuatunya dengan mudah dikontrol atau digeser supaya tetap dalam target pencapaian sama. In the end of the day, I enjoy changes. Itu yang terpenting.

Hal keempat sebenarnya tidak terlalu berbeda, mungkin karena masih sama-sama di wilayah marcomm dengan sasaran pasar anak muda. Di pekerjaan sebelumnya bidang fashion retail dan yang baru di P2P lending, tim saya (dan yang mengelilinginya) berjiwa muda. Saya yang generasi senior millennial ini pun menjadi bersemangat semakin muda bekerja dengan para junior millennial, bahkan Generasi Z. Masukan-masukan akan perkembangan teknologi dan tren terkini juga saya dapatkan dari teman-teman yang lebih muda ini.

Poin kelima, implisit disebutkan di awal, bekerja di startup yang berisi anak muda, berarti pula bekerja dengan idealisme. Hal-hal yang dilakukan, meski memang harus profitable, lebih berorientasi membantu sesama, semakin menyejahterakan masyarakat Indonesia. DanaLaut sejalan dengan idealisme yang masih saya pegang, bahwa pembangunan Indonesia tidak boleh hanya Jawa-sentris, bahwa kemakmuran harus dirasakan segenap bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Pun cara-cara mencapai hal tersebut, semua dilakukan sejalan dengan idealisme yang ada. Ketaatan pada aturan, menjalankan bisnis dengan etika, hingga pengupayaan menghindari jalan pintas yang menjerumuskan. Di usia yang semakin bertambah, dengan kondisi dunia yang semakin “beracun”, menjaga sanity dengan idealisme anak muda, menurut saya, adalah upaya terbaik.

It’s always about flexibility
Terakhir, saya selalu mencari pekerjaan yang bisa fleksibel secara waktu dan lokasi (juga berpakaian). Semenjak di konsultan / agensi, perusahaan fashion retail, hingga startup sekarang ini, saya masih (dan terus berupaya) mendapatkannya. Fleksibilitas waktu dan tempat tak hanya sekedar supaya saya bisa bersenang-senang, tetapi juga agar diri saya dapat terus bertumbuh dan lebih berguna bagi sesama. Melanjutkan pendidikan, ikut dalam kegiatan sosial pembangunan perbatasan, ataupun sekedar memiliki waktu menyapa tetangga dan berkegiatan lingkungan; menjadi ekses positif fleksibilitas tadi. Belum lagi kalau saya kemudian dikaruniai seorang lelaki atau wanita untuk saya rawat dan didik sebagai anak, tentu saya membutuhkan pekerjaan yang bisa menghidupi secara finansial, juga hubungan personal. Pun bahwa dengan fleksibilitas yang ada, pekerjaan kantor secara profesional dapat selesai dengan baik, dengan tetap meluangkan diri untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *