Kurang Piknik

Saya baru menyadari bahwa paspor terbaru saya masih kosong lembar-lembarnya. Paspor ini dibuat pada akhir tahun 2017 ketika paspor sebelumnya hilang di tanah Om Sam. Berarti, sudah 2 (dua) tahun lebih saya tidak sama sekali melakukan perjalanan ke luar negeri. Memasuki tahun 2020 ini, saya mencoba mengingat-ingat mengapa selama itu saya berdiam saja di dalam negeri selama masa tersebut. Padahal sebelumnya, saya termasuk sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
Paspor Indonesia — https://alphapay.id/wp-content/uploads/2019/03/image005-13.jpg

Faktor Penyebab

Ketika saya coba flashback, faktor utama perjalanan saya ke luar negeri (dan ternyata ke luar pulau) drop adalah perpindahan nature of working / studying environment. Hingga akhir 2017 itu, saya kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Internasional, kemudian lama bekerja di perusahaan multinasional. Kondisi itulah yang membuat saya banyak bepergian ke luar negeri untuk mencari pengalaman atau bekerja. Memasuki 2018, saya menghabiskan waktu bekerja di perusahaan lokal. Baru belakangan ini, saya kembali ke perusahaan multinasional; itupun point of networks-nya belum sebanyak sebelumnya.

Hal kedua, memasuki tahun 2018, adalah masa persiapan pernikahan. Tampaknya faktor ini cukup menguras waktu, tenaga, dan biaya sehingga saya tidak sempat jalan-jalan ke luar negeri (atau luar pulau). Destinasi penerbangan saya tidak jauh-jauh dari Solo dan Palembang. Bolak-balik ke dua kota ini, ditambah baru pindah kerja dan belum dapat cuti, memastikan saya tidak mungkin punya waktu, biaya, plus tenaga untuk jalan-jalan ke luar negeri.

Faktor ketiga, sepertinya karena tidak ada teman untuk diajak jalan-jalan ke luar negeri. Beberapa sohib yang biasa menemani, sudah memiliki kesibukan dan prioritas lain, baik itu pekerjaan atau keluarga. Mereka yang masih bisa menyempatkan diri, memilih tujuan yang belum pernah dikunjungi -dan saya tidak mungkin ke sana karena dua faktor sebelumnya.

Penyebab terakhir, tampak jelas berhubungan dengan studi S3 saya yang dimulai di akhir 2017. Perkuliahan, jurnal, serta konferensi yang (lagi-lagi) menguras waktu, tenaga, dan biaya semakin melengkapi “penderitaan” saya.

2020: Ready to Go

Memasuki tahun 2020 ini, semuanya nampak kembali “normal”. Saya sepertinya akan memiliki sisa waktu, tenaga, dan biaya untuk berjalan-jalan ke luar negeri (atau luar pulau). Tentunya, menuju lokasi berjarak pendek, memiliki rute low cost carrier, juga ada teman di sana yang bisa ditebengi sehingga menghemat biaya akomodasi 😀 . Sesuai pemikiran yang saya anut: melakukan trip ke luar lokasi keseharian kita, dapat memberikan perspektif dan tenaga baru, untuk kita bisa melangkah ke depan dengan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *