Uncategorized

Januari & Februari: Pandemi dan Bencana Tiada Henti

Tulisan ini merupakan coretan pertama saya pada 2021. Tak ada yang menyangka, setahun sejak pandemi Covid-19 mulai memasuki Indonesia, virus global ini belum juga menyingkir. Tatanan kehidupan masih serba terbatas untuk bergerak, tidak sebebas dulu lagi ketika ingin bepergian atau berkumpul bersama teman dan keluarga. Jujur, saya agak kesal pada diri sendiri; tidak ada roller coaster cerita sejak awal mula 2021. Semuanya terasa landai, semuanya terasa biasa, semuanya mulai begitu-begitu saja. Namun saya tentu harus banyak bersyukur, di saat pandemi dan bencana tiada henti melanda banyak orang, saya termasuk orang yang selamat, tidak mengalami efek negatif kedua hal tadi.

Januari dan Pandemi

Tahun 2021 memulai dirinya dengan banyak kontroversi seputar penanganan dan tanggapan terkait pandemi Covid-19. Di saat beberapa negara mulai menyatakan diri bebas dari penularan lokal, negeri tercinta Indonesia justru mencatatkan jutaan kasus positif. Masyarakat sudah mulai tak peduli dengan adanya pandemi, terlebih vaksinasi mulai terlaksana di banyak kota -sehingga mengurangi ketakutan terhadap virus, serta masyarakat sudah mulai bosan dan/atau tercekik kebul dapurnya.

Pemerintah mendengungkan banyak hal, terutama mengurangi pembatasan warga di saat libur panjang yang banyak terjadi di Januari. Sayangnya pemenerintah, menurut saya, lupa bahwa virus itu sudah menyebar ke banyak orang dan tempat, namun tidak terdeteksi. Hanya ketika libur panjang terjadi dan masyarakat terpaksa, karena persyaratan, mengambil tes sebagai syarat perjalanan, banyak yang kemudian terdeteksi positif Covid-19. Jadi kalau keluar statement “libur panjang berdampak pada peningkatan kasus” kok menurut saya seperti adagium zaman kuliah “Anda datang, bebek mati” alias tidak ada hubungan kausalitas sama sekali.

Catatan pun menunjukkan positivity rate mencapai 29,46% atau lebih dari 10% sesuai standar global; yang artinya pandemi tidak terkendali. Akibat laju penyebaran virus yang tinggi -yang mana menurut saya akibat sedikitnya tes tadi, mengakibatkan banyaknya kasus-kasus infeksi di masyarakat tidak terdeteksi sejak dini. Selain test positivity rate, keberhasilan suatu negara menangani pandemi juga bisa dilihat dari angka kematian. Walaupun satu kematian, hal itu menunjukkan adanya ketidakberhasilan dalam mendeteksi secara dini satu kasus infeksi. Sayangnya, Indonesia tercinta mencatat tiga digit angka kematian dan terus menerus meningkat, setiap tiap hari ada, yang berarti ada kesalahan strategi penanganan.

Februari Bersama Bencana Tiada Henti

Banyaknya bencana alam (dan manusia) mengisi Bulan Februari seiring dengan cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah. Terawali dengan gunung meletus dan gempa bumi, banjir kemudian mengiringi Bulan Februari di berbagai daerah. Gunung Sinabung di Sumatera menjadi yang pertama erupsi di akhir Januari dan “batuk” tak henti selama berhari-hari. Berentetan setelah Gunung Sinabung, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Semeru di Jawa Timur pun ikut berbatuk. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahkan memantau 69 gunung dari 127 gunung api di Indonesia.

Adapun terkait banjir, catatan terparah tahun ini adalah banyak kota yang sebelumnya tidak pernah merasakan banjir, untuk pertama kalinya mengalami bencana manusia ini. Bahkan di banyak daerah seperti Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta, tinggi banjir mencapai batas leher, bahkan lebih di puncak hari-hari tertentu. Ya benar! Menurut saya tadi, sekarang, dan nanti; banjir adalah bencana manusia, bukan bencana alam. Gunung meletus dan gempa bumi tidak akan pernah bisa diduga. Fenomena mereka adalah suratan alam. Namun untuk banjir? Saya setuju dengan ucapan Bapak Dedi Mulyadi, eks Bupati Purwakarta, bahwa “alam tidak pernah berdusta”; bahwa saat bencana (banjir) melanda, kita harus mengevaluasi seluruh diri secara bersama-sama. Banjir terjadi saat manusia merusak alam, saat manusia mengkhianati tatanan alam, saat manusia menjajah alam.

Impian untuk Masa Berikutnya

Banyak impian dan rencana yang terbayang untuk saya lakukan di penghujung Maret dan sepanjang April tahun ini. Cukup deg-degan juga menghadapinya di tengah pandemi dan bencana tiada henti. Apalagi impian dan rencana tadi serba baru, keluar dari comfort zone, menantang, dan belum pernah dijelajahi. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana, lancar, dan terberkahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *