Uncategorized

Merentang Masa Perjalanan Maraton Studi Doktoral

“Akhirnya perjalanan selama 3 (tiga) tahun sejak September 2017 itu usai.” Kalimat yang terucap dalam hati saya itu serasa mendinginkan kepala dari hawa panas Jakarta. Setelah 3 (tiga) tahun studi, tepat pada hari terakhir Agustus 2020, saya berhak menyandang gelar Doktor dari Universitas Bina Nusantara (atau beken disebut Binus University). Perjalanan saya menempuh studi doktor ini melewati berbagai tahapan hidup: berpindah kerja 4 (empat) perusahaan, berubah status dari single menjadi married, merentang masa saya menjelajahi dunia, hingga selama 6 (enam) bulan terakhir stay at home saja akibat pandemi Covid-19.

Note sejenak: membaca tulisan ini memerlukan waktu lumayan panjang.

Inspirasi Melanjutkan Studi Doktoral

Pertanyaan yang sama selalu muncul ketika saya berpindah kerja: mengapa kamu memutuskan mengambil studi S3? Jawaban dari pertanyaan tersebut cukup simple. Ketika mayoritas orang mengambil S3 karena ingin hijrah dari dunia korporasi menjadi seorang pengajar, saya justru belum memikirkan ke arah sana. Kala itu ketika saya sempat berkunjung ke kantor Ogilvy Singapura, bertemu beberapa head yang membawahkan unit kerja sesuai expertise. Menarik perhatian saya waktu itu, para head ini ternyata PhD holder pada bidangnya masing-masing. Seorang PhD holder bidang kesehatan masyarakat mengepalai departemen healthcare waktu itu. Adapun departemen teknologi memiliki seorang PhD holder bidang big data sebagai pimpinan. Saya kemudian berpikir: mengapa saya tidak bisa seperti mereka? Bukankah menjadi seorang konsultan juga harus lebih “berisi” ketika menghadapi kliennya?

Saya kemudian melanjutkan browsing mengenai dunia per-S3-an ini. Studi doktoral di luar negeri kerap terpisah menjadi dua wilayah: praktikal dan akademis. Dua bagian besar ini sesuai fokusnya masing-masing: seorang doktor praktikal untuk dapat menyelesaikan problem bisnis secara sistematis, serta doktor akademis yang bertujuan menghasilkan temuan atau teori baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian masalah secara luas. Untuk Indonesia, studi doktoral masih bercampur dan lebih banyak mengarah ke sisi akademis.

Part-Time Study

Seperti ketika mengambil studi S2, pada waktu itu saya juga ingin menyelesaikan studi S3 secara part-time. Alasan klise tentu agar tidak mengorbankan karir -entah mengapa, saya tidak bisa melepaskan ini- sambil tetap bisa menyelesaikan studi. Saya pun belum berniat menjadi full-time dosen atau peneliti sehingga studi full-time rasanya kok agak membuang waktu dan pengalaman.

Singkat cerita kemudian, saya berencana untuk mengambil studi S3 online dari sebuah universitas luar negeri. Namun pada waktu itu, para reviewer menilai proposal penelitian saya kurang “menggigit” dan menolak aplikasi saya. Malas memperbaiki, saya mencari-cari informasi untuk studi dalam negeri saja. Tentu saja dengan harapan, proses seleksi masuk akan lebih mudah -tapi nyatanya tidak.

Mencari ke sana ke sini, akhirnya saya memutuskan mendaftar studi doktor ke Binus. Alasan saya 2 (dua): sudah terakreditasi B (per 2020 ini sudah menjadi Unggul) dan perkuliahan mengambil Jumat malam dan setengah hari Sabtu. Berbeda ketika saya memilih weekdays malam untuk studi S2, kali ini rasanya badan dan otak sudah tidak kuat menghabiskan weekdays untuk kerja serta kuliah. Weekend saya pun kini cukup nganggur sejak usaha kuliner tutup pada awal 2017 dan membuat saya “gatal” berdiam saja selama weekend.

Akhirnya Accepted

Dus, yakinlah saya mendaftar program Doctoral Research in Management (DRM). Saya sengaja mengambil bidang manajemen juga karena S2 sebelumnya berasal dari studi manajemen. Siapa tahu nanti saya menjadi seorang pengajar, maka S2 dan S3 saya masih linear satu bidang studi -memenuhi syarat untuk bisa menjadi profesor, heheh. Ketika saya pikir mudah, ada saja hambatan masuk menjadi mahasiswa doktoral. Perkuliahan ternyata sudah memasuki minggu pertama sehingga saya harus mendapatkan dispensasi khusus dari Direktur Pascasarjana. Reviewer pun lagi-lagi menilai proposal penelitian saya belum cukup “menggigit”.

Beruntung, Tes Potensi Akademik (TPA) memberikan hasil 675 (dari maksimal 800) dan TOEFL ITP memunculkan nilai 580. Saya mendapat kesempatan memperbaiki proposal penelitian. Bapak profesor Direktur Pascasarjana pun menyempatkan diri langsung mewawancarai saya. Beliau bertanya ini itu, berupaya menggali apa yang sebenarnya ingin saya teliti selama studi doktor di Binus. Menurut beliau, saya sudah tahu apa yang ingin saya teliti dan topiknya cukup baru serta menarik. Hanya saja memang, tulisan saya masih belum tertata untuk ukuran seorang calon PhD student, terutama dari sisi pembangunan teori. Saya akhirnya masuk kuliah saat minggu ketiga perkuliahan berjalan. Hal ini membuat saya tidak bisa bolos sama sekali saat semester pertama karena secara administrasi, saya sudah melewatkan 2 (dua) minggu perkuliahan sehingga “jatah” absen saya pun habis.

Tahapan Awal: Kuliah Tatap Muka Seputar Teori

Mulai menjadi mahasiswa S3, saya harus beradaptasi dengan kehidupan serta istilah seputar studi doktoral. Secara ringkas, perjalanan saya akan terbagi menjadi 6 (enam) tahapan dengan 5 (lima) ujian yang sangat menentukan kelanjutan studi.

Tahap pertama, mahasiswa akan mengikuti perkuliahan tatap muka untuk pendalaman teori (teori dasar konsentrasi studi, metodologi penelitian tingkat lanjut, dan filsafat ilmu). Kelas-kelas ini perlu untuk memantapkan dasar studi doktoral, baik penguatan teori, daya analisis, maupun reason behind melakukan sebuah penelitian dan menciptakan ilmu. Selama setahun perkuliahan, seluruh mata kuliah wajib mendapat nilai B untuk dapat terus ke tahap berikutnya.

Selesai perkuliahan tatap muka, Ujian Kualifikasi sudah menunggu, sebagai tahap kedua sekaligus ujian pertama, serta menentukan apakah mahasiswa layak melanjutkan studi dari teori ke penelitian disertasi. Apabila lulus, mahasiswa akan menyandang status kandidat doktor atau biasa tertulis sebagai Dr(c). Saya baru mengetahui bahwa pencantuman gelar menggunakan (c) ini tidak bisa sembarangan. Sebelumnya saya berpikir mengapa ada Dr(c) tapi tidak ada, misalnya Master(c). Pada tahap ini juga, mahasiswa akan mendapatkan 3 (tiga) pembimbing yang terdiri dari seorang promotor (pembimbing utama yang wajib bergelar profesor) dan 2 (dua) ko-promotor.

Masih ingat dengan bapak profesor Direktur Pascasarjana yang saya ceritakan saat mendaftar studi doktor di Binus? Beliaulah yang menjadi promotor disertasi saya. Menarik kalau kita lihat istilah promotor/ko-promotor ini. Studi doktoral adalah studi independen yang dalam perjalanannya, terlebih ketika sudah lulus, yang bersangkutan harus dapat melakukan riset mandiri serta membimbing studi atau penelitian orang lain. Oleh karena studi independen ini, maka statusnya tidak lagi seorang “bimbingan”. Istilah promotor/ko-promotor pun berarti bahwa seorang doktor atau ketika sidang disebut sebagai promovendus, layak menjadi doktor, hanya apabila promoted by other scholars (dalam hal ini, seorang doktor atau expert bidang tersebut). To note, Anda hanya dapat mengikuti 2 (dua) kali Ujian Kualifikasi. Jika sampai gagal kedua kalinya, maka otomatis Anda terdiskualifikasi, alias DO (drop out), alias terpaksa berhenti sebagai mahasiswa.

Sidang Proposal

Lolos Ujian Kualifikasi, maka mahasiswa akan mulai menjalani masa penulisan disertasi dengan bimbingan promotor/ko-promotor. Saat beliau-beliau sudah memberikan approval, Ujian Proposal kemudian menjadi tahap ketiga, sekaligus ujian kedua, sebagai ajang pembuktian apakah penelitian kandidat doktor memiliki novelty (kebaruan terhadap sumbangsih ilmu) dan urgency (penting untuk dilakukan).

Ketika tiba saatnya ujian, si kandidat doktor akan menghadapi 6 (enam) orang, yakni promotor/ko-promotor, 2 (dua) penguji dari internal kampus, serta (1) penguji eksternal. Penguji eksternal wajib bergelar doktor dan biasanya memiliki pengalaman praktis agar proposal si mahasiswa benar-benar teruji secara akademis maupun praktis. Jika para penguji menilai proposal mahasiswa masih kurang mantap untuk level doktoral, maka bisa jadi Anda perlu mengulang ujian. Namun yang lazim terjadi, Anda akan tetap lolos, meski dengan segudang perbaikan yang semua promotor/ko-promotor dan penguji wajib menyetujui revisinya. Oh ya, ujian ini harus terjadi maksimal 3 (tiga) tahun sejak awal studi atau Anda akan terkena sanksi DO.

Setelah Penelitian Sekian Lama

Tahap keempat, sekaligus sebagai ujian ketiga dalam studi doktoral adalah Seminar Hasil Penelitian (SHP). Jeda antara Ujian Proposal hingga SHP biasanya menjadi yang terlama dari semua tahap penelitian. Maklum saja, setelah Ujian Proposal dilakukan, revisi harus disetujui keenam orang tadi, kemudian baru mengumpulkan dan mengolah data. Kalau mengumpulkan data bisa dilakukan dalam waktu singkat sih oke-oke saja. Kalau ternyata tidak? Ya wassalam.

Pada umumnya, penelitian mahasiswa doktoral memerlukan waktu 6 (enam) sampai 12 (dua belas) bulan untuk mengumpulkan data komprehensif yang berkualitas. Apalagi kalau jenis penelitiannya berupa pengamatan perilaku, beuh bisa jadi memerlukan waktu beberapa tahun. Selesai mengumpulkan data pun, olah data belum tentu memberikan hasil sesuai harapan. Hipotesis bisa saja tidak terbukti dan memerlukan tambahan basis teori atau pendalaman penelitian. Apalagi jika penelitian terdahulu belum pernah mengambil wilayah atau masyarakat Indonesia sebagai sample, kecenderungan ini sering muncul. Namun hipotesis yang tidak terbukti ini justru menjadi temuan menarik, menantang kita untuk “melawan” status quo penelitian yang sudah ada.

Proses penelitian juga bisa lebih parah ketika olah data, tools statistik menunjukkan model penelitian kita lemah, data error, atau malah laptop/komputer kita yang error ketika mengolah data. Sering terjadi juga ketika Sidang Hasil, kita menampilkan hasil penelitian kepada promotor/ko-promotor (tanpa adanya penguji), perlu banyak tambahan data atau basis teori supaya argumen akhir kita sebagai kandidat doktor menjadi lebih kuat.

Sidang Penentuan

Sidang Tertutup, sebagai tahap kelima dan ujian keempat, selanjutnya menjadi pembuktian akhir bahwa penelitian si kandidat doktor benar-benar novel dan urgent. Sering disebut sebagai PhD viva, kali ini mahasiswa kembali mempresentasikan hasil penelitiannya di depan promotor/ko-promotor dan penguji. Jika tidak ada aral melintang -dalam kasus saya, salah satu penguji internal meninggal dunia, maka susunan penguji Sidang Tertutup akan sama dengan Sidang Proposal. Sisi positifnya, seluruh penguji sudah mengetahui asal-usul penelitian serta mafhum akan model dan teori kita. Sisi negatifnya, penguji sangat mengerti kalau ada hasil penelitian dan tarikan kesimpulan yang tidak normal.

Di sini, mahasiswa akan benar-benar “dikuliti”. Ibarat tinju, segala jab, silang, hook, uppercut, kombinasi; semua bakal Anda hadapi. Bisa juga terjadi, kita sebagai mahasiswa sudah berlatih tinju, ternyata penguji menggunakan teknik silat atau taekwondo. Saat akhirnya lulus Sidang Tertutup, Anda bisa bernapas sangat lega karena studi Anda berarti telah 90% selesai. Seperti Ujian Kualifikasi dan Proposal, Sidang Tertutup memiliki batasan waktu. Anda harus dapat menyelesaikannya dalam 5 (lima) tahun atau terkena sanksi DO.

Eits, satu catatan penting: untuk bisa mengikuti Sidang Tertutup, Anda harus memiliki 2 (dua) published paper terindeks Scopus dan menjadi pembicara pada sebuah konferensi internasional.

Saatnya Promosi

Sidang Terbuka atau Promosi Doktor kemudian menjadi tahap akhir masa studi, tahapan keenam serta ujian kelima. Dijelaskan di awal tadi, promotor/ko-promotor akan mempromosikan kita sebagai seorang doktor baru di hadapan khalayak ramai. Tidak banyak universitas luar negeri memiliki tahapan ini. Beberapa universitas dalam negeri mulai memberikan opsi Sidang Promosi atau langsung wisuda bagi mahasiswa yang telah lulus Sidang Tertutup dan melakukan perbaikan.

Beberapa sindiran sebenarnya muncul terhadap Sidang Promosi ini, antara lain: hanya sebagai formalitas atau memenuhi hasrat pamer masyarakat Indonesia bahwa seseorang layak bergelar doktor. Tahapan Sidang Promosi ini sendiri termasuk sebagai sidang Senat Universitas sehingga Rektor akan langsung memimpin sidang. Anda akan menghadapi promotor/ko-promotor, penguji, dan Rektor secara publik dengan banyak tamu undangan; mempresentasikan temuan Anda dan menjawab setiap pertanyaan. Semacam “memenuhi” sindiran tadi, saya tidak pernah menemukan seorang promovendus dinyatakan tidak lulus dalam sidang promosi. Pasca Sidang Promosi, Anda akan tetap perlu melakukan perbaikan (super minor) sebagai syarat bisa mengikuti wisuda -yang banyak doktor biasanya melewatkan atau tidak merayakannya.

Secara umum saya perhatikan, studi dalam maupun luar negeri, tahapannya sama dengan uraian di atas. Beberapa universitas memotong bagian awal yang berubah pendalaman teori (dan Sidang Promosi). Pada model studi doktoral fast track tanpa pendalaman teori, calon mahasiswa biasanya sudah harus lolos seleksi proposal penelitian oleh 2 (dua) reviewer -yang kemudian menjadi pembimbing studi- sebelum ia diterima sebagai mahasiswa doktoral.

Faktor Non-Akademis

Sedikit OOT, saya merasa sangat beruntung memiliki banyak teman dalam penyelesaian studi doktor di Binus. DRM Binus memiliki 2 (dua) kali intake setiap tahun dengan acceptance 10-12 mahasiswa pada setiap intake. Kombinasi kelas terdiri dari 50% dosen dan 50% praktisi profesional supaya sharing pengalaman dan networking dapat lebih tercipta. Khusus angkatan saya, jumlah mahasiswa mencapai 24 (dua puluh empat) orang karena adanya 10 (sepuluh) dosen Binus yang mendapat beasiswa S3. Per detik tulisan ini published, 23 (dua puluh tiga) orang bertahan dan 2 (dua) orang lulus tepat waktu meraih gelar doktor. Sejauh yang saya tahu, tak ada satupun teman satu angkatan yang menjadi full-time student.

Banyaknya teman tadi memberikan energi tersendiri. Sebelum pandemi Covid-19, kami biasa ngobrol, nongkrong, ngalor ngidul membahas kuliah, penelitian, sampai kehidupan mahasiswa dan dosen. Sekedar bertemu sesama mahasiswa S3 seperti ini memberikan reminder bahwa kami mampu dan harus segera menyelesaikan studi. Pandemi memang mengubah segalanya, kami tak lagi bisa berkumpul seperti dulu. Berbagai grup Whatsapp, dari topik serius hingga remeh temeh, serta video call pun hadir untuk tetap menjaga semangat studi.

Meski banyak hambatan, lagi-lagi bisa saya cukup beruntung saat menempuh studi doktor di Binus: mendapatkan promotor/ko-promotor yang sangat kooperatif meskipun beberapa penguji cukup merepotkan. Promotor/ko-promotor memberikan solusi, mudah ditemui, responsif, dan (paling utama menurut saya) tepat waktu ketika kita telah membuat janji bertemu meski beliau-beliau adalah pejabat universitas yang sangat sibuk. Maka, tak hanya persoalan membagi waktu dan tahun 2020 yang menghambat banyak hal (pengumpulan data atau jadwal ujian -tertunda beberapa bulan dalam kasus saya); urusan mendapatkan persetujuan seluruh promotor/ko-promotor dan penguji jelas menjadi seni tersendiri.

Tertarik menjadi seorang PhD scholar? Yuk ngobrol!

4 thoughts on “Merentang Masa Perjalanan Maraton Studi Doktoral

  1. Selamat ya Dr. Assed Lusak. You deserve to the highest achievement academically. Semoga ini membawa Anda kepada peluang2 yg lebih baik lagi dan lagi di masa mendatang.
    Amin. Tuhan memberkati

  2. Selamat pak Dr. Assed, sangat senang membaca cerita mas Assed di blognya. Thank you mas Assed sudah memberi extra miles menulis dan berbagi, saya belajar banyak insight baru dari mas Assed.

    Good luck mas Assed!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *